Pages

Thursday, August 07, 2014

A Ticket to Middle Earth

Waktu itu tahun 2011 ketika saya masih cukup muda, tapi lama di perusahaan yang sama,posisi yang sama (dan gaji yang sama). Tak ada yang salah dengan pekerjaannya. Tapi berada di tempat yang sama terlalu lama selalu membuat gelisah. Ditambah krisis perempat baya dengan kegelisahan yang mengelayutinya, cukup jadi bahan bakar yang mendorong pergi ke tempat yang jauh, sejauh Middle Earth, walau gak tahu mencari apa. Bertemu para hobbit mungkin.

Middle earth seperti digambarkan dalam novel fiksi Lord of the Ring (LOTR) yang juga sudah difilmkan adalah sebuah lokasi imajiner yang merupakan pusat benua yang ada di bumi. Tempat itu adalah New Zealand, setidaknya lokasi syuting LOTR di sana, karena Middle Earth yang sebenarnya tak pernah ada. Saya jatuh cinta dengan New Zealand saat menyaksikan film tersebut.

Di awal tahun 2011, kota Christchurch di New Zealand mengalami gempa yang mengganggu kondisi pariwisata di sana. Beberapa bulan setelah itu muncul promo AirAsia untuk penerbangan Jakarta-Christchurch. Sempat khawatir gempa susulan di sana, tapi saya nekat beli tiketnya. Business class dengan harga Rp. 3,6 juta pergi pulang adalah barang langka. 



A Solo Traveling to Middle Earth

Akhir November 2011, saya berangkat dari Jakarta menuju Christchurch melalui Kuala Lumpur, seorang diri. Traveling sendirian memberi saya kesempatan untuk menikmati setiap momen secara personal.

Setelah sekitar 13 jam penerbangan, pesawat memasuki wilayah udara New Zealand seperti diumumkan oleh awak pesawat. Beberapa saat sebelum pesawat mendarat, penumpang di sebelah saya yang merupakan warga negara New Zealand memberikan kursinya di sebelah jendela agar saya dapat melihat keluar. Dia bilang “Look that’s Aoraki. We are in Middle Earth now”.  Aoraki adalah pegunungan tertinggi di New Zealand dikenal juga dengan Mount Cook, dimana sebagian besar lokasi LOTR berlangsung. Ya, saya tiba di Middle Earth dan melakukan perjalanan ini sendiri.



Malam pertama saya tinggal di kota Christchurch yang sedang berbenah pasca gempa. Saya hanya menginap semalam dan besok paginya lanjut ke Greymouth menggunakan Kereta TranzAlpine. Perjalanan ditempuh selama 4 jam menyusuri Canterburry Plains, melewati lembah Waimakariri River menuju pedesaan Southern Alps yang disebut ArthurPass dimana kereta berhenti sejenak sebelum melanjutkan perjalanan menuju Greymouth melewati Beech Rain Forest. Saya sangat senang saat keluar dari gerbong utama menuju gerbong terbuka pada bagian depan kereta untuk berdiri dalam posisi bebas dan merasakan tiupan angin kencang sambil menikmati pemandangan Southern Alpine, tanpa sekat apapun 



Hanya saya, angin dan pegunungan itu…hening seperti dalam keabadian

Kemudian saya masuk angin....dan sialnya, Tolak Angin saya telah disita petugas bandara Christchurch karena mengandung madu.

Di kereta TranzAlpine saya bertemu dengan gadis Malaysia yang juga solo traveler, namanya Netty. Tujuan kita sama yaitu Franz Josef glacier dan Queenstown. Dia menyewa mobil dari Greymouth menuju ke dua destinasi tersebut dan mengajak saya untuk ikut. Kami melakukan road trip menyusuri West Coast dengan mobil yang ia sewa menuju destinasi pertama, Franz Josef untuk melihat glacier di puncak gunung. Ini adalah pertama kalinya saya merasakan es di pegunungan. Setelah menginap semalam kami lanjut ke Queenstown yang ditempuh selama 4 jam.



Saya menetap selama 3 hari di Queenstown dan mengunjungi berbagai lokasi menarik. Saya memilih untuk mengunjungi Milford Sound, tour ke Aoraki sambil melihat lokasi syuting LOTR. 



Keesokannya saya bertemu Darryl, teman saya yang tinggal di Queenstown. Darryl mengantar saya ke beberapa lokasi menarik di sekitar Queenstown dengan kendaraannya. Yang paling saya suka dari New Zealand adalah mirror lakes yang bisa ditemukan di sebagian besar wilayah ini. Saya suka duduk-duduk tanpa melakukan apapun di tepi danau, memandangi pantulan latar gunung dari danau cermin. Momen seperti ini memberikan saya kesempatan untuk ikut bercermin tentang hidup.



Sunrise in Deborah Bay

Kembali ke Queenstown saya berpamitan dengan Netty dan mengucapkan terima kasih atas tumpangannya. Kemudian saya melanjutkan perjalanan ke Dunedin, kota kecil di daerah Otago, sementara Netty ke Aoraki. Saya menginap di rumah teman yang saya kenal melalui jaringan pertemanan para pejalan CouchSurfing. Namanya Yuhsien Yien, imigran dari Taiwan yang telah lama menetap di New Zealand. Di sana saya bertemu dua CouchSurfer dari Polandia yang sedang menginap, Grazia dan Monika.

Lokasi rumah Yuhsien berada di pinggir pantai Deborah Bay, langsung menghadap ke samudera. Pagi harinya kami duduk bersama menanti sunrise sambil mendengarkan cerita Yuhsien ketika dia memutuskan pindah dari Taiwan dan menetap di New Zealand.

Matahari pagi muncul dari arah dermaga Deborah Bay, dimana kapal-kapal itu bersandar. Melihat kapal-kapal yang bersandar di dermaga dengan latar matahari terbit yang perlahan-lahan naik, saya ingat nasihat dari teman yang entah dia kutip darimana:


 “tempat yang paling aman bagi sebuah kapal adalah dermaga, tapi bukan itu alasan kapal dibuat.."

Seperti juga cerita Yuhsien yang merasa tempat paling aman bagi dia adalah rumahnya di Taiwan. Tapi bagi dia, hakikat manusia adalah berkelana dan mencari, seperti kapal yang dibuat untuk berlayar.

Siangnya saya beranjak dari tempat Yuhsien untuk melanjutkan perjalanan menuju Christchurch dan kembali ke Jakarta. Grazia dan Monika mengantar saya ke pusat kota. Mereka melanjutkan perjalanannya dengan kendaraan yang mereka sewa sementara saya kembali ke Christchurch menggunakan Naked Bus. 



Dari namanya saya pikir bis itu berisi bule-bule telanjang atau setidaknya pake bikini (ngarep). Ternyata saya salah, cuma sopirnya yang telanjang (bohong dehh). Di dalam bus saya berkenalan dengan 3 orang pejalan lainnya dari Taiwan, Malaysia dan Thailand. Mereka semua sama-sama menggunakan AirAsia dengan penerbangan yang sama. Kami tiba di bandara lebih awal dan menghabiskan waktu di bandara bercerita kisah perjalanan masing-masing di Middle Earth.

Setiap pejalan memaknai perjalanannya secara berbeda. Seperti yang saya dengar dari cerita teman baru saya di naked bus tadi, Sophia, Catherlin, Chommi, Jin Yoo, yang menceritakan middle earth versi mereka. Middle earth versi saya adalah sebuah tempat yang saya tuju untuk menemukan teman baru, inspirasi baru dan yang paling utama menemukan diri saya dan memahami bahwa seperti kapal, saya pun tidak bisa berlama-lama tinggal di dermaga, karena kapal dibuat untuk berlayar.



Itu adalah Middle Earth saya, yang tiketnya saya peroleh dari AirAsia.

*Enam bulan kemudian, saya keluar dari pekerjaan saya di BUMN. Masih di lautan yang sama. Karyawan di perusahaan lain. Yang jelas keluar dari “dermaga" dan berlayar. Menyiapkan diri untuk lautan yang lebih luas nantinya.
READ MORE - A Ticket to Middle Earth

Thursday, January 09, 2014

NusantaRun: Berlari dengan Hati

"If you cannot run with your legs, run with your HEART"

Di kilometer 30, sekitar East Coast pada rute Standard Chartered Singapore Marathon (SCMS) 2013 terpampang kutipan itu yang merupakan salah satu dari motivation quote yang dipajang untuk membangkitkan semangat para peserta amatir dan pemula seperti saya, yang mulai merasa menyesal mengikuti lomba lari marathon berjarak 42,2 kilometer. Rasanya ingin mencopot kaki ini dan mengganti dengan yang baru, layaknya ban mobil yang bisa diganti pada saat pertandingan formula one.  Sayangnya hal itu tidak mungkin. Yang mungkin adalah menambah bahan bakarnya, motivasi. Setidaknya ada dua hal yang dibutuhkan untuk mencapai garis finish pada setiap lomba lari jarak jauh, yaitu modal fisik, dan modal motivasi untuk menyelesaikan apa yang telah dimulai.

Modal pertama diperoleh dengan mempersiapkan otot-otot kaki melalui latihan yang cukup lama. Sementara modal kedua terkait dengan tujuan masing-masing pribadi. Keduanya bisa dilatih, tapi modal fisik ada batasnya. Pada umur tertentu kemampuan fisik seseorang akan mengalami penurunan, namun sebaliknya motivasi tak terbatas karena letaknya yang berada di ruang tak berhingga. Besarnya tak terukur sejauh kita meyakininya. 

Ketika fisik mengalami kelelahan dan pikiran mengatakan ingin berhenti, satu-satunya bahan bakar untuk tetap berlari adalah ketetapan hati untuk mencapai garis finish dengan kaki sendiri. Motivasi ada dalam benak seseorang yang merupakan proses yang mendorong, dan menjaga agar tujuan yang diinginkan tercapai. Proses tersebut melibatkan aspek biologis, emosi, sosial dan kognitif yang mengaktifkan perilaku untuk bertahan pada tujuan awal. Semakin kuat motivasi tadi semakin besar energi yang dimiliki seseorang untuk mencapai tujuannya. Kabar baiknya adalah, motivasi layaknya energi terbarukan tidak akan pernah habis selama kita meyakininya.

Salah satu motivasi yang kuat terkait dengan dorongan sosial dan kognitif adalah beramal dan berbagi. Tujuan beramal inilah yang mendorong sekelompok orang untuk berlari sambil mengumpulkan amal seperti yang dilakukan NusantaRun pada 28 Desember 2013. NusantaRun adalah sebuah acara yang diadakan dan didukung oleh beberapa komunitas lari yaitu : Bintaro Trojan Runners, Depok Running Buddy (Derby), IRunURun Pondok Indah, dan Running Rage. NusantaRun bermaksud mengajak para sukarelawan pelari dan donatur untuk berlari dan mengumpulkan dana untuk disumbangkan kepada organisasi nirlaba Care4Kids Indonesia. Dana yang dikumpulkan akan digunakan untuk membantu pendidikan anak-anak Indonesia dalam bentuk beasiswa dan bantuan peralatan kepada sekolah-sekolah yang membutuhkan.

Ide awalnya datang dari Jurian Andika dan Christopher Tobing yang kemudian mendapat respon positif dari rekan-rekan pelari dari komunitas lari lainnya hingga akhirnya berhasil menjaring sebanyak 45 penggemar lari untuk ikut berpartisipasi. Acara ini juga didukung banyak sularelawan yang menjadi bagian tim yang terdiri dari 13 pesepeda, tim dokumentasi dan beberapa orang yang berada pada mobile station yang menyediakan minuman dan keperluan medis bagi pelari yang membutuhkan. Mereka semua mendampingi dan mengawal pelari sepanjang jalur Monas ke Bogor yang merupakan seri pertama dari kegiatan ini.

Bagi saya Nusantarun adalah sebuah bentuk turun tangan dan aksi nyata untuk menyelesaikan masalah. Tidak hanya sebatas berwacana atau menunggu orang lain melakukannya. Tujuan dari para pelari itu sangat sederhana, mereka ingin berbagi melalui apa yang mereka senangi. Itu saja. Sederhana tapi nyata. Saya melihat mereka adalah orang-orang yang optimis terhadap masa depan Indonesia dan memutuskan berhenti mengutuki kegelapan dan mulai dengan hal sederhana, berlari.

Niat dari para pelari ini pun didukung oleh para donatur yang berpartisipasi melalui sumbangan (pledge) yang mereka kirimkan melalui pelari bersangkutan. Hingga saat tulisan ini dibuat telah terkumpul dana lebih dari 110 juta rupiah dan pengumpulan dana masih akan terus dilakukan hingga 11 Januari 2014.

Berlari dari dua tempat yang cukup bersejarah, Monumen Nasional dan Kebun Raya Bogor dengan jarak sekitar lima puluh lima kilometer adalah hal yang menantang sekaligus romantis. Menghubungkan sebuah cerita tentang republik ini di masa awal berdirinya. Anda bisa mendatangi kedua tempat tadi dengan menempuh kendaraan yang mungkin hanya akan memakan waktu 2-3 jam perjalanan. Namun perjalanan menggunakan kendaraan adalah hal yang terlalu biasa sehingga mereka memilih berlari untuk merasakan dan bersentuhan langsung dengan segala hal dalam perjalanan.

Dimulai dari pintu tenggara Monas, saya dan 33 pelari lainnya mulai berlari pada pukul 3 pagi melewati kawasan Thamrin. Suasana sunyi jalanan Thamrin-Sudirman-Gatot Subroto sangat kontras dengan suasana macet yang selama ini kita lihat. Pagi itu jalanan milik kami, para pelari. Berlari menikmati lenggangnya jalanan sambil memandangi gedung-gedung Jakarta dengan cahaya minim yang romantis. Memasuki Pasar Minggu, saya dan pelari lainnya berpapasan dengan banyak pedagang yang telah lebih dulu berada disana melakukan perniagaan. Memperlihatkan denyut kota Jakarta yang tak pernah berhenti. Pada pukul 05.00 para pelari berhenti untuk melakukan ibadah sholat Shubuh bagi yang muslim sementara peserta lainnya beristirahat. Berhenti sejenak untuk mensyukuri nikmat yang telah diberikan Nya hingga hari ini. Alhamdulillah.

Kemudian kami berlari menuju kota Depok, tempat saya tinggal, melalui jalur Margonda menuju titik perhentian selanjutnya. Di titik ini kemudian bergabung 11 pelari lainnya untuk bersama-sama menuju Kebun Raya Bogor melalui jalur Cibinong dan memasuki kota Bogor yang memiliki ciri khas angkot di mana-mana. Cuaca panas dan kondisi jalan yang ramai adalah tantangan pada rute ini yang menguji ketetapan hati para pelari. 


Seperti yang saya alami pada beberapa lomba lari marathon sebelumnya, kilometer 30-40 adalah ujian sekaligus momen ketika saya berbicara dengan diri saya sendiri tentang batas-batas yang saya miliki dan tujuan yang ingin saya capai. Momen ini mengundang kembali kenangan saya pada masa-masa dulu ketika mengalami kesulitan membiayai kuliah, menyelesaikan skripsi dan ketika semua masalah menumpuk di depan mata seperti sebuah tembok tinggi. 

Pada saat itu saya berbisik pada diri saya sendiri untuk tidak berhenti sebelum mencapai garis finish. Saya menyampaikan pesan dari hati dan pikiran saya kepada sel-sel di tubuh ini untuk menyatukan komitmen menyelesaikan apa yang telah saya mulai. Pada fase ini bukan lagi kaki yang berlari, tapi hati.

Akhirnya sekitar pukul 13.00 sebagian besar peserta berhasil sampai di garis finish dengan bahagia, dengan beberapa peserta yang harus dievakuasi karena kondisi yang tidak memungkinkan. Saya sendiri baru mencapai garis finish sekitar pukul 14.00 setelah melewati jalanan kota bogor dengan jumlah angkot yang lebih banyak dari penumpangnya. Inilah bentuk baru menikmati perjalanan melalui berlari dan bersentuhan langsung dengan udara, debu, aspal, terik matahari dan senyum ramah setiap orang yang kami temui di setiap kilometernya.

Apa yang saya lihat dan rasakan dari para pelari lainnya adalah mereka tidak hanya berlari untuk menikmati keindahan kedua tempat tadi tetapi juga ingin melakukan sesuatu yang berguna bagi Nusantara, membantu pendidikan anak-anak Indonesia sekecil apapun itu bentuknya. Suatu hal yang berasal dari hati. Sebuah motivasi yang tulus yang menggerakkan setiap pelari untuk menyelesaikan apa yang telah mereka mulai sejak pukul 3 pagi di Monas saat sebagian besar orang masih tidur terlelap. Mereka mulai berlari di saat gelap masih menyelimuti Jakarta seakan ingin menyatakan bahwa mereka berhenti mengutuki kegelapan dan berlari untuk berbagi. 


Berlari dengan hati
READ MORE - NusantaRun: Berlari dengan Hati

Monday, December 17, 2012

Reuni

"Aa fajrin, sore ini bisa gak ikutan makan-makan, farewellnya mbah ke Krakatau Posco? ". Pesan singkat dari Dede menyambung pesan sebelumnya minggu lalu tentang rencana kumpul-kumpul bareng teman-teman dari kantor gw yang lama. Sorenya gw pun langsung beranjak lebih cepat dari kantor untuk bertemu teman-teman yang sudah seperti keluarga ini. Beberapa kali rencana ini dibuat, tapi baru sekarang realisasinya. Mulai dari momen buka puasa, lebaran, hingga waktu libur kantor sewaktu pemiliihan Gubernur Jakarta, namun selalu tertunda. Baru kemarin akhirnya bertemu. Kebetulan Pak Murtyastanto, yang akrab dipanggil Mbah baru saja dipromosikan untuk posisi baru di perusahaan joint venture Krakatau Posco.

Sampai di sana gw telat (seperti biasa dan semua memahaminya), mereka sudah selesai makan, dan sedang asik dengan cerita tentang perubahan-perubahan yang terjadi di "republik baja" tempat dulu gw pernah bekerja.


Yang paling bikin kangen dari teman-teman lama gw ini adalah suasana kekeluargaan yang sangat kental bahkan dalam suasana kerja. Walaupun sering kali banyak tekanan dalam pekerjaan yang datangnya bertubi-tubi, gw masih bisa menemukan sebuah ruang nyaman tempat gw bisa berbagi beban tanpa merasa disudutkan ketika gw tidak mampu menyelesaikan persoalan. Di sana gw gak pernah merasa sendirian dalam bekerja, selalu ada orang yang bisa gw andalkan, Rachma, Bayu yang merupakan rekan-rekan sepantaran yang selalu membantu tanpa ada pretensi persaingan satu sama lain.

Lebih dari itu yang paling menyenangkan adalah ritual obrolan setiap hari di tengah ruangan yang terdiri dari beberapa kubikal menghadap keluar dan menyisakan satu meja di bagian tengah yang menjadi tempat ritual obrolan pagi hari. Sebuah ruangan diskusi bebas dimana segala topik dapat diterima.

Ada cerita tentang macet pagi ini dan berengseknya para pengendara di jalanan, perubahan politik nasional, harga saham perusahaan yang makin tergerus, dinamika politik internal perusahaan, problem rumah tangga, sampai cerita tentang kelakuan dari beberapa orang-orang di kantor yang kami anggap menggelikan. Obrolan pagi selama 1 jam dulu itu biasanya ditemani makanan kecil yang tersedia di meja bulat ditengah ruangan. Makanan tersebut didonasikan oleh siapa saja yang ihklas membagi makanan sambil mulai bercerita. Ada juga yang mendengarkan sambil melakukan ritual sarapan bubur ayam atau mie instan bikinan Wawan si office boy di lantai 6.

Satu jam pertama itu menjadi semacam ice breaking sebelum memulai aktivitas serius dalam lingkup penelitian industri baja. Menjadikan suasana kantor selalu hangat dan kental dengan nuansa kekeluargaan, walaupun ada nuansa kekeluargaan dalam definisi lain yang sering kami jadikan bahan tertawaan di republik baja itu. Kekeluargaan yang sering dimaknai oleh beberapa oknum pejabat dengan membawa keluarga atau kerabat untuk bekerja di perusahaan yang sama. Mungkin maksudnya agar lebih dekat dengan keluarga dan juga agar setiap keputusan dapat dijalankan secara kekeluargaan

Divisi tempat gw bekerja dulu termasuk yang paling anti terhadap hal-hal semacam itu dan kami selalu menjadikan hal-hal itu bahan tertawaan. Termasuk saat reunian kali ini. Salah satu cerita yang menarik adalah bagaimana Pak Murtyastanto mendapati di tempat kerjanya yang baru diisi oleh staf-staf yang masih terkait hubungan keluarga dengan orang-orang berpengaruh di republik baja.

Tempat kerja gw dulu itu seperti sebuah republik kecil yang merefleksikan republik Indonesia ini. Ada kronisme, ada intrik politik yang melingkupi pergantian posisi-posisi penting, ada kasak-kusuk dalam beberapa proyek perusahaan, namun tetap ada orang-orang jujur yang jengah dengan hal-hal itu namun tak terlalu memiliki kekuatan untuk menggeser gunungan masalah di republik baja itu dan sambil menunggu perubahan itu bergerak sedikit demi sedikit mereka melampiaskannya dalam diskusi ringan di tengah ruangan itu sambil menjadikannya bahan tertawaan di pagi hari sambil ditemani sarapan bubur ayam, indomie instant atau makanan kecil lainnya. Hal-hal yang gak lagi bisa gw lakukan di tempat kerja sekarang.
READ MORE - Reuni

Sunday, September 09, 2012

Asuransi

Di saat-saat khawatir, asuransi jadi hal yang penting.Terutama ketika berdampingan dengan resiko yang besar. Adanya fase perpindahan dalam pekerjaan yang membutuhkan tenaga lebih untuk beradaptasi membuat gw merasa sangat khawatir hal-hal lebih buruk mungkin menimpa di waktu nanti. Ditambah lagi kekhawatiran bahwa dengan resiko tersebut orang-orang disekitar gw harus ikut menanggungnya ..

Di tengah-tengah rasa khawatir itu, secara kebetulan seorang kolega dari perusahaan tempat gw bekerja sebelumnya, menghubungi gw dan menawarkan asuransi. Singkat kata gw tertarik, karena memang sudah berencana untuk membeli polis asuransi dari jenis selain yang gw punya saat ini. Pas banget, emang rejekinya dia.

Sebelum gw cerita tentang asuransi, ada yang menarik yang mau gw cerita di sini. Kolega gw ini adalah seorang GM (General Manager) di BUMN tempat gw bekerja dulu dan ketika bertemu untuk menjelaskan produk asuransinya dia banyak bercerita tentang kegiatan sampingannya ini. Awalnya gw agak heran, dengan gajinya yang saat ini sebagai GM, buat apalagi jualan-jualan asuransi kayak begini. Si Ibu ini pun bercerita tentang beberapa hal yang mendorongnya “nyambi” jadi agen asuransi. 

Pada dasarnya si Ibu ini orang yang sangat lincah berbicara dan pintar “menjual” sesuatu. Konon, dia juga menjadi orang yang cukup berpengaruh dalam keputusan CEO kantor gw yang lama waktu itu. Seorang pembisik, kira-kira begitulah teman gw yang lain mendefinisikan karakter si Ibu ini yang pandai menjual ini. Tapi di ujung ceritanya mengenai alasannya menjadi agen asuransi, dia juga bercerita tentang kekhawatirannya menghadapi masa pensiun nanti.

 “Uang pensiun saya nanti katanya cuma segini lohh Jrin” ceritanya sambil menyebut angka nominal setara dengan gaji terakhir gw waktu di BUMN itu. Entah seberapa akurat hal itu, yang jelas kekhawatirannya nampak nyata. Singkat kata gw pun terpengaruh karena rasa segan terhadap kolega dari kantor yang lama yang notabenenya juga atasan tidak langsung di kala itu. Pengetahuan gw tentang produk keuangan gak terlalu dalam dan sebelum menulis tentang postingan ini juga belum mau mendalami. Jadi gw belum bisa membedakan satu produk dan lainnya dan nilai ekonomi dari masing-masing investasi tersebut secara relatif satu sama lain. Jadi akhirnya gw mengiyakan tawaran kolega gw tadi karena sungkan.

Namun setelah gw pertimbangkan sekali lagi, gw pada dasarnya hanya membutuhkan asuransi tanpa embel-embel investasi dalam produk yang disebut unit link yang sebelumnya sudah gw miliki. Kemudian  gw baca tulisan mengenai ilusi finansial dari link ini. Tulisan dalam blog itu memberikan gw pemahaman lebih baik tentang unit link dan ilusi finansial di dalamnya. Gw juga jadi teringat dengan konsep "opportunity cost" di jaman kuliah dulu. Tulisan itu menyadarkan gw untuk membuat keputusan untuk menempatkan asset harus didasari dari retun dari pilihan-pilihan yang ada. Dan yang paling penting untuk membedakan antara asuransi dan investasi. 

Salah satu teman gw pernah mendefinisikan asuransi (dalam pemahamannya dia sebagai ABG dengan pengetahuan yang sangat minim) sebagai "pacar" yang akan melindungi dia dikala sakit dan membutuhkan bantuan. Asuransi seperti layaknya pacar akan membuat dia merasa nyaman dan mengurangi rasa khawatir jika hal buruk menimpa di saar-saat tak terduga.  

Sementara itu investasi adalah menempatkan uang kita dengan mengharapkan adanya kenaikan nilai uang tersebut. Jadi jelas berbeda antara investasi dan asuransi. Bahkan temen gw yang masih ABG dan minim pengetahuan tadi pun paham tentang itu. 

Tapi, yang populer saat ini adalah produk yang menggabungkan kedua hal itu : pelindung (asuransi) dan kenaikan nilai uang (investasi). Sesuatu yang tidak fokus akan menghasilkan sesuatu yang tidak optimal. Itu prinsipnya. Selain itu cara penjualan asuransi saat ini tidak memberikan gambaran yang transparan tentang pilihan-pilihan dalam investasi tadi (tentu karena mereka agen asuransi akan membanggakan produk mereka) apalagi dengan sekelumit detail-detail yang "njelimet" sehingga akhirnya orang pun mengiyakan saja namun akhirnya berujung kepada ketidakpuasan nantinya. 

Produk seperti unit link, saat ini sangat gencar dipasarkan oleh agen-agen asuransi. Namun perlu diperhatikan berapa besarnya porsi premi dan investasi yang kita bayarkan. Kemudian coba anda hitung besarnya imbal hasil dan nilai akhir investasi itu jika dilakukan secara terpisah. Ilustrasi sederhana dari blog ini menyimpulkan unit link bersifat ilusi. 

Dari pertimbangan itu saya menyimpulkan lebih baik saya menempatkan uang saya dalam produk yang lebih menguntungkan dan membeli asuransi secara terpisah. Hasil akhirnya jauh lebih menguntungkan. Setidaknya dalam perhitungan diatas kertas.

Kembali ke soal kolega gw tadi, pada saat dia datang ke kantor gw bersama rekannya yang juga GM di BUMN itu dan memberikan prospek mengenai pentingnya asuransi ini, hal yang ditekankan seperti agen asuransi lainnya adalah "banyaknya resiko" dalam hidup kita ini. Mereka pun bercerita mengenai resiko dan kekhawatiran-kekhawatira mereka dalam hidup. Kekhawatiran  jika mereka nanti sakit dan harus dirawat di ruang kelas 1 bukan ruang VIP ? Apa rasanya jika pensiun nanti pendapatan mereka berkurang dan tidak bisa berlibur ke luar negeri? Kekhawatiran akan hilangnya hal-hal premium yang telah mereka nikmati saat ini. Semakin lama gw mendengarkan kedua orang itu bercerita gw semakin merasa ada kekosongan dari setiap kata-katanya. Gw pun jadi malu sendiri karena hal itu juga yang gw khawatirkan selama ini. Kekhawatiran yang sesungguhnnya tidak perlu, apalagi kalau gw lihat ke sekeliling gw. Banyak orang-orang yang bisa menikmati hidupnya walaupun dengan hal-hal sederhana yang dimiliki.

Gw pun belajar beberapa hal yang penting malam itu. Untuk lebih mensyukuri apa yang gw miliki saat ini, berhenti khawatir berlebihan dan untuk tidak membeli unit link. 
READ MORE - Asuransi

Saturday, June 25, 2011

Hong Kong: fragrant harbor & odorous skyline

I didn’t smell any fragrant at the harbor but I believed it was Hong Kong when I see the skyline. As I read from Wikipedia the name "Hong Kong" is an approximate phonetic rendering of the pronunciation of the spoken Cantonese or Hakka name "香港" (Heung and Gong), meaning "fragrant harbour" . But then I wonder why they called it "fragrant  harbour" ?. Some historians suggest that Hong Kong's Chinese name was inspired by its export of fragrant incense as I also read from here.   Nowaday, I would rather to name Hong Kong as an odourous skyline if we see the fact that there is 7,650 skycrapers in here.  Thirty-six of the world's 100 tallest residential buildings are in Hong Kong. More people in Hong Kong live or work above the 14th floor than anywhere else on Earth, making it the world's most vertical city not a fragrant harbour anymore.

We arrived in Hong Kong - Macau Ferry Terminal at Shun Tak Centre, 200 Connaught Road Central, Sheung Wan, Hong Kong, then we take MTR to Tsim Tsa Sui toward our hostel at Chung King Mansion near the Nathan Road. It was around 12 at midnight and the MTR is still operating. Just at the gate near the building called Chungking Mansion, an old lady is come to us and she bring her name plate written : Sukma Wahyuningsih. It was my friend name who books the room for us. The old lady said that she has been waiting us for hours and she is little bit worry since we didn’t show up until 12 midnight. She then take us to our hostel passing through the corridor of that building up into the 12 floor when we see that the room is too small as we also already now. It’s Hong Kong, one of the most expensive city in the world. We know that.

Lantau Island : To Ngong Village through Cable Car
The Next day we go to our first destination in Lantau Island. We go there using the MTR through one transit station and then we arrived at the Tung Chung station. From Tung Chung station we go to the cable car terminal toward the Ngong ping village to see the Tian Tan Buddha. 



How to get there:
Assuming that you're taking the Tsim Sha Tsui MTR station, take the MTR Tsuen Wan Line going towards Tsuen Wan and get off at Lai King station - interchange trains to the MTR Tung Chung Line towards Tung Chung and get off to that last station. Take the Exit B and look for signs going to the Ngong Ping 360 Cable Car Terminal.
Fare : Adult 13.8 (Octopus), 15.5 (Single Ticket)
MTR Station

Arrived in Tung Chung Station
Welcome in Ngong Ping


The Ngong  Ping Village


Wish you luck
It was foggy. We cannot see the panoramic view as promises at the www.np360.com.hk. We already book the cable car through the website, but we should exchange the booking print out with the ticket at the counter. There were no que.
The Cable Car
 
Inside the cable car
The Route
This ride is from Tung Chung Town Centre down to Ngong Ping, Lantau Island. Encompassing bird's eye views of the South China Sea and Tung Chung Bay, Scenic Mountains, the Hong Kong International Airport, and the whole North Lantau Country Park.

We arrived at final station in Ngong Ping Village after 20 minutes journey through the cable car. It was disappointing since we cannot see anything from the cable car window. Then we walk toward the Buddha statue. It was quite an effort to get to the Buddha statue since we should walk the thousand of stepladder ( I think it was thousand, more or less).

Having excited walking upward and downward the stairs then we have a meal at one of the Halal restorant at the Ngong Ping Village . It was a middle east restaurant so we feel more comfortable with the food.

We pass the monastery and we go directly back to the Tung Chung station via the cable car (again). But the view was quite good rather than the first ride. At the Tung Chung station we stop by to City gate factory Outlet which famous for it big discount for quality goods.




Citygate Factory Outlet
 
Ngon Ping Station

Hong Kong Island : Victoria Tram, Victoria Peak, Madame Tussaud
The next destination is the Victoria Peak at the Hong Kong island. From Tung Chung station we go back to the hostel first since we cannot find any mosque around the street (at the next day we found that there is a mosque near the Hostel). Then we go toward Victoria peak.




How to get there:

Take the MTR >> Central Station >>The Peak Lower Station, at Garden Road >> Victoria Peak. From Central ke The Peak Lower Terminus.

Fare :
Tram ticket price as follows: Adult = HK$ 28 - one way, HK$ 40 - round trip; Child (age 3 - 11) or Senior (age 65 or above) = HK$ 11 - one way, HK$ 18 - round trip
Madame Tussaud
When we arrived, it was around 09 pm and the Madame Tussaud is closed at 10 pm. So we only have less than an hour to get around the museum while also taking picture with the figures from Kung Fu star (Andy Lau, Jet Li to name a few) to the world leaders (Obama, Hu Jiantao & mahatma Gandhi ). They also have a scream room where they will try to scare us with all the tools they have while we walk through the corridor.


                                                                      

 

Then we go back by the same route to the hotels to take a nap and charging our energy for tomorrow adventure.
Waiting

 


 
Kowloon : Harbor City, Avenue of Stars and Masjid Kowloon
The next day we start the journey to go to the Harbor city near the Star Ferry Terminal. The view is good with the foggy around.   Then we go straight back to Kowloon, near the hostel to visit the Avenue of Stars. Here are the photos :


Action
Bruce Lee
Becoming a movie stars

One of my friends should go back to Jakarta and cannot continue to Macau for the reason of duty calling. So we take her to the Central station so she can continue to the airport by Airport Express from Central station.

After that we go to Mongkok station to look around the famous ladies market which actually sell all goods for all gender not only for ladies as It name. I have not taken any picture there, since I am busy bargaining with the seller.

In the afternoon, we stop by to the Kowloon Mosque near the Nathan road. It is said that although the current building dates from the eighties, the first mosque on the site was erected in 1896 as a place of worship for Muslims in the British Arm according to this site.

 
Kowloon Mosque

Hong Kong after 5 @Kowloon
We have count all the expense that we have made. If you interested to review our budget and itinerary please feel free to download the doc here.

READ MORE - Hong Kong: fragrant harbor & odorous skyline