Pages

Monday, December 17, 2012

Reuni

"Aa fajrin, sore ini bisa gak ikutan makan-makan, farewellnya mbah ke Krakatau Posco? ". Pesan singkat dari Dede menyambung pesan sebelumnya minggu lalu tentang rencana kumpul-kumpul bareng teman-teman dari kantor gw yang lama. Sorenya gw pun langsung beranjak lebih cepat dari kantor untuk bertemu teman-teman yang sudah seperti keluarga ini. Beberapa kali rencana ini dibuat, tapi baru sekarang realisasinya. Mulai dari momen buka puasa, lebaran, hingga waktu libur kantor sewaktu pemiliihan Gubernur Jakarta, namun selalu tertunda. Baru kemarin akhirnya bertemu. Kebetulan Pak Murtyastanto, yang akrab dipanggil Mbah baru saja dipromosikan untuk posisi baru di perusahaan joint venture Krakatau Posco.

Sampai di sana gw telat (seperti biasa dan semua memahaminya), mereka sudah selesai makan, dan sedang asik dengan cerita tentang perubahan-perubahan yang terjadi di "republik baja" tempat dulu gw pernah bekerja.


Yang paling bikin kangen dari teman-teman lama gw ini adalah suasana kekeluargaan yang sangat kental bahkan dalam suasana kerja. Walaupun sering kali banyak tekanan dalam pekerjaan yang datangnya bertubi-tubi, gw masih bisa menemukan sebuah ruang nyaman tempat gw bisa berbagi beban tanpa merasa disudutkan ketika gw tidak mampu menyelesaikan persoalan. Di sana gw gak pernah merasa sendirian dalam bekerja, selalu ada orang yang bisa gw andalkan, Rachma, Bayu yang merupakan rekan-rekan sepantaran yang selalu membantu tanpa ada pretensi persaingan satu sama lain.

Lebih dari itu yang paling menyenangkan adalah ritual obrolan setiap hari di tengah ruangan yang terdiri dari beberapa kubikal menghadap keluar dan menyisakan satu meja di bagian tengah yang menjadi tempat ritual obrolan pagi hari. Sebuah ruangan diskusi bebas dimana segala topik dapat diterima.

Ada cerita tentang macet pagi ini dan berengseknya para pengendara di jalanan, perubahan politik nasional, harga saham perusahaan yang makin tergerus, dinamika politik internal perusahaan, problem rumah tangga, sampai cerita tentang kelakuan dari beberapa orang-orang di kantor yang kami anggap menggelikan. Obrolan pagi selama 1 jam dulu itu biasanya ditemani makanan kecil yang tersedia di meja bulat ditengah ruangan. Makanan tersebut didonasikan oleh siapa saja yang ihklas membagi makanan sambil mulai bercerita. Ada juga yang mendengarkan sambil melakukan ritual sarapan bubur ayam atau mie instan bikinan Wawan si office boy di lantai 6.

Satu jam pertama itu menjadi semacam ice breaking sebelum memulai aktivitas serius dalam lingkup penelitian industri baja. Menjadikan suasana kantor selalu hangat dan kental dengan nuansa kekeluargaan, walaupun ada nuansa kekeluargaan dalam definisi lain yang sering kami jadikan bahan tertawaan di republik baja itu. Kekeluargaan yang sering dimaknai oleh beberapa oknum pejabat dengan membawa keluarga atau kerabat untuk bekerja di perusahaan yang sama. Mungkin maksudnya agar lebih dekat dengan keluarga dan juga agar setiap keputusan dapat dijalankan secara kekeluargaan

Divisi tempat gw bekerja dulu termasuk yang paling anti terhadap hal-hal semacam itu dan kami selalu menjadikan hal-hal itu bahan tertawaan. Termasuk saat reunian kali ini. Salah satu cerita yang menarik adalah bagaimana Pak Murtyastanto mendapati di tempat kerjanya yang baru diisi oleh staf-staf yang masih terkait hubungan keluarga dengan orang-orang berpengaruh di republik baja.

Tempat kerja gw dulu itu seperti sebuah republik kecil yang merefleksikan republik Indonesia ini. Ada kronisme, ada intrik politik yang melingkupi pergantian posisi-posisi penting, ada kasak-kusuk dalam beberapa proyek perusahaan, namun tetap ada orang-orang jujur yang jengah dengan hal-hal itu namun tak terlalu memiliki kekuatan untuk menggeser gunungan masalah di republik baja itu dan sambil menunggu perubahan itu bergerak sedikit demi sedikit mereka melampiaskannya dalam diskusi ringan di tengah ruangan itu sambil menjadikannya bahan tertawaan di pagi hari sambil ditemani sarapan bubur ayam, indomie instant atau makanan kecil lainnya. Hal-hal yang gak lagi bisa gw lakukan di tempat kerja sekarang.
READ MORE - Reuni

Sunday, September 09, 2012

Asuransi

Di saat-saat khawatir, asuransi jadi hal yang penting.Terutama ketika berdampingan dengan resiko yang besar. Adanya fase perpindahan dalam pekerjaan yang membutuhkan tenaga lebih untuk beradaptasi membuat gw merasa sangat khawatir hal-hal lebih buruk mungkin menimpa di waktu nanti. Ditambah lagi kekhawatiran bahwa dengan resiko tersebut orang-orang disekitar gw harus ikut menanggungnya ..

Di tengah-tengah rasa khawatir itu, secara kebetulan seorang kolega dari perusahaan tempat gw bekerja sebelumnya, menghubungi gw dan menawarkan asuransi. Singkat kata gw tertarik, karena memang sudah berencana untuk membeli polis asuransi dari jenis selain yang gw punya saat ini. Pas banget, emang rejekinya dia.

Sebelum gw cerita tentang asuransi, ada yang menarik yang mau gw cerita di sini. Kolega gw ini adalah seorang GM (General Manager) di BUMN tempat gw bekerja dulu dan ketika bertemu untuk menjelaskan produk asuransinya dia banyak bercerita tentang kegiatan sampingannya ini. Awalnya gw agak heran, dengan gajinya yang saat ini sebagai GM, buat apalagi jualan-jualan asuransi kayak begini. Si Ibu ini pun bercerita tentang beberapa hal yang mendorongnya “nyambi” jadi agen asuransi. 

Pada dasarnya si Ibu ini orang yang sangat lincah berbicara dan pintar “menjual” sesuatu. Konon, dia juga menjadi orang yang cukup berpengaruh dalam keputusan CEO kantor gw yang lama waktu itu. Seorang pembisik, kira-kira begitulah teman gw yang lain mendefinisikan karakter si Ibu ini yang pandai menjual ini. Tapi di ujung ceritanya mengenai alasannya menjadi agen asuransi, dia juga bercerita tentang kekhawatirannya menghadapi masa pensiun nanti.

 “Uang pensiun saya nanti katanya cuma segini lohh Jrin” ceritanya sambil menyebut angka nominal setara dengan gaji terakhir gw waktu di BUMN itu. Entah seberapa akurat hal itu, yang jelas kekhawatirannya nampak nyata. Singkat kata gw pun terpengaruh karena rasa segan terhadap kolega dari kantor yang lama yang notabenenya juga atasan tidak langsung di kala itu. Pengetahuan gw tentang produk keuangan gak terlalu dalam dan sebelum menulis tentang postingan ini juga belum mau mendalami. Jadi gw belum bisa membedakan satu produk dan lainnya dan nilai ekonomi dari masing-masing investasi tersebut secara relatif satu sama lain. Jadi akhirnya gw mengiyakan tawaran kolega gw tadi karena sungkan.

Namun setelah gw pertimbangkan sekali lagi, gw pada dasarnya hanya membutuhkan asuransi tanpa embel-embel investasi dalam produk yang disebut unit link yang sebelumnya sudah gw miliki. Kemudian  gw baca tulisan mengenai ilusi finansial dari link ini. Tulisan dalam blog itu memberikan gw pemahaman lebih baik tentang unit link dan ilusi finansial di dalamnya. Gw juga jadi teringat dengan konsep "opportunity cost" di jaman kuliah dulu. Tulisan itu menyadarkan gw untuk membuat keputusan untuk menempatkan asset harus didasari dari retun dari pilihan-pilihan yang ada. Dan yang paling penting untuk membedakan antara asuransi dan investasi. 

Salah satu teman gw pernah mendefinisikan asuransi (dalam pemahamannya dia sebagai ABG dengan pengetahuan yang sangat minim) sebagai "pacar" yang akan melindungi dia dikala sakit dan membutuhkan bantuan. Asuransi seperti layaknya pacar akan membuat dia merasa nyaman dan mengurangi rasa khawatir jika hal buruk menimpa di saar-saat tak terduga.  

Sementara itu investasi adalah menempatkan uang kita dengan mengharapkan adanya kenaikan nilai uang tersebut. Jadi jelas berbeda antara investasi dan asuransi. Bahkan temen gw yang masih ABG dan minim pengetahuan tadi pun paham tentang itu. 

Tapi, yang populer saat ini adalah produk yang menggabungkan kedua hal itu : pelindung (asuransi) dan kenaikan nilai uang (investasi). Sesuatu yang tidak fokus akan menghasilkan sesuatu yang tidak optimal. Itu prinsipnya. Selain itu cara penjualan asuransi saat ini tidak memberikan gambaran yang transparan tentang pilihan-pilihan dalam investasi tadi (tentu karena mereka agen asuransi akan membanggakan produk mereka) apalagi dengan sekelumit detail-detail yang "njelimet" sehingga akhirnya orang pun mengiyakan saja namun akhirnya berujung kepada ketidakpuasan nantinya. 

Produk seperti unit link, saat ini sangat gencar dipasarkan oleh agen-agen asuransi. Namun perlu diperhatikan berapa besarnya porsi premi dan investasi yang kita bayarkan. Kemudian coba anda hitung besarnya imbal hasil dan nilai akhir investasi itu jika dilakukan secara terpisah. Ilustrasi sederhana dari blog ini menyimpulkan unit link bersifat ilusi. 

Dari pertimbangan itu saya menyimpulkan lebih baik saya menempatkan uang saya dalam produk yang lebih menguntungkan dan membeli asuransi secara terpisah. Hasil akhirnya jauh lebih menguntungkan. Setidaknya dalam perhitungan diatas kertas.

Kembali ke soal kolega gw tadi, pada saat dia datang ke kantor gw bersama rekannya yang juga GM di BUMN itu dan memberikan prospek mengenai pentingnya asuransi ini, hal yang ditekankan seperti agen asuransi lainnya adalah "banyaknya resiko" dalam hidup kita ini. Mereka pun bercerita mengenai resiko dan kekhawatiran-kekhawatira mereka dalam hidup. Kekhawatiran  jika mereka nanti sakit dan harus dirawat di ruang kelas 1 bukan ruang VIP ? Apa rasanya jika pensiun nanti pendapatan mereka berkurang dan tidak bisa berlibur ke luar negeri? Kekhawatiran akan hilangnya hal-hal premium yang telah mereka nikmati saat ini. Semakin lama gw mendengarkan kedua orang itu bercerita gw semakin merasa ada kekosongan dari setiap kata-katanya. Gw pun jadi malu sendiri karena hal itu juga yang gw khawatirkan selama ini. Kekhawatiran yang sesungguhnnya tidak perlu, apalagi kalau gw lihat ke sekeliling gw. Banyak orang-orang yang bisa menikmati hidupnya walaupun dengan hal-hal sederhana yang dimiliki.

Gw pun belajar beberapa hal yang penting malam itu. Untuk lebih mensyukuri apa yang gw miliki saat ini, berhenti khawatir berlebihan dan untuk tidak membeli unit link. 
READ MORE - Asuransi

Sunday, January 02, 2011

Januari dan Dua Kepala

Tahun baru sebelumnya gw selalu berlibur di pantai indah kasur, ditemani bantal, selimut dan lagu-lagu dari playlist favorit. Kadang-kadang juga begadang sambil membaca ulang buku harian sambil menyesali banyak hal yang terlewat. Pokoknya kegiatan apapun yang meminimumkan fungsi pengeluaran. Gak minat sama sekali ngumpul-ngumpul nungguin detik-detik pergantian tahun baru. Tapi malam itu akhirnya gw ikut ngumpul bareng teman-teman kuliah, setelah gagal ngumpul dengan teman-teman kantor. Mereka adalah teman-teman sewaktu kuliah dulu yang kini hobi traveling dan beberapa kali barengan traveling. Awalnya gw pikir hanya group India (teman-teman yang ikutan traveling India beberapa waktu lalu), tapi sampai disana gw ketemu beberapa teman lainnya yang baru saja keluar dari XXI EX Plaza. Para travelers juga ternyata. Setelah itu semuanya berkumpul di Zenbu, beberapa makan, gw hanya minum mineral water (karena udah makan & pengen ngirit juga), ngobrol tentang pengalaman traveling masing-masing, gosip ini itu dan ditutup dengan melihat atraksi kembang api di bundaran HI (Kempinski).

Sambil menyaksikan atraksi kembang api yang spektakuler sekaligus pengalaman pertama menunggu detik-detik pergantian baru di sekitar bundaran HI, terlintas dalam pikiran ini tentang usia, cita-cita dan tentang untuk apa semua ini dalam hidup. Perputaran jam berakhir saat melewati menit ke 59.Putaran hari diakhiri saat malam tiba untuk memulai hari selanjutnya. Putaran minggu terlewati saat hari minggu berganti senin. Putaran tahun berganti malam itu saat Desember digantikan oleh Januari. Dan orang-orang merayakannya sambil berharap hal-hal yang lebih baik di tahun yang baru.

Dalam kekaisasan Romawi Julius Caesar pada tahun 46 B.C.E. pertama kali dicetuskan bahwa 1 Januari sebagai hari Tahun Baru. Diambil dari nama Dewa Pintu dan Gerbang, dan memiliki dua wajah, satu melihat ke depan dan satu belakang. Caesar merasa bahwa bulan dengan nama dewa Janus ini akan menjadi "pintu" yang tepat untuk tahun ini.

Secara filosofi dalam kalender Islam pun terdapat hal yang sama. Tahun Hijriyah ditetapkan pada jaman Khalifah Umar bin Khatab pada tahun 622 Masehi dengan mengacu pada peristiwa hijrahnya Rasulullah saw dari Mekah ke Madinah (Yastrib). Umat Islam memaknai pergantian tahun Hijriyah sebagai awal untuk melakukan transformasi menuju segala hal yang lebih baik.

Terlepas dari ideologi dibalik perayaan tahun baru, buat gw awal Januari adalah salah satu momen untuk melakukan refleksi dengan melihat 365 hari sebelumnya di belakang dan merencanakan 365 hari selanjutnya ke depan. Memori selama setahun ke belakang tentunya masih segar untuk dilihat dan rencana-rencana ke depan juga masih menggebu-gebu untuk di kejar. Januari adalah titik yang tepat untuk melihat ke depan sekaligus bercermin ke belakang. Sama seperti Janus, Januari memiliki dua kepala yang satu melihat ke masa lalu sementara yang satu melihat ke depan. Mari rencanakan hal-hal baik di tahun ini mumpung kita masih punya dua kepala di bulan Type rest of the post here
Januari ini.
READ MORE - Januari dan Dua Kepala

Sunday, December 19, 2010

A Morning Rush

Alkisah seorang pemuda malas diharuskan untuk bangun pagi dan sampai di kantor pada pukul 07.00 WIB. Sehari sebelumnya pemuda itu membuat janji dengan temannya, Yoan untuk bersama-sama berangkat menuju Cilegon untuk menghadiri sebuah acara. Pemuda itupun mengiyakan untuk bisa sampai di kantor pada jam 07.00 walaupun ia tahu penyakit sulit bangun pagi telah diidapnya sejak lama. Dengan jarak dari rumah ke kantor sekitar 25 KM dan kondisi macet rutin di pagi hari maka setidaknya Ia harus berangkat pukul 05.30 dari rumah untuk mengejar kereta pukul 05.45. Pagi itu ketika Ia bangun, waktu menunjukkan pukul 06.30, dan tentu saja Ia dalam bahaya.

Singkat kata setelah bimbang dan ragu beberapa saat, akhirnya ia memutuskan untuk tetap berangkat menggunakan bis umum karena tidak mungkin untuk tiba di kantor pukul 07.00 sesuai janji untuk nebeng bareng Yoan. Sekitar 500 meter dari rumah ia mencoba mencari Taksi. Ada satu taksi, Taxiku yang mangkal dan ia langsung mengetok jendelanya. Ternyata sopirnya, masih terlelap, masih asik dengan mimpinya. Gak peduli dengan mimpi si sopir, Ia ketok makin kencang supaya sopir itu bangun. Tetap gak bangun juga. Ia mondar-mandir di sekitar Taxiku itu beberapa detik hingga ia lihat sebuah taksi lain berwarna putih dengan lampu yang menyala.

So whats the rush??

Malam sebelumnya, menjelaskan alasan keterlambatan bangun pagi tersebut. Gw pergi menonton film bersama dua orang teman semasa kuliahnya dulu dan filmnya sangatlah lucu (Due Date) sehingga sesampainya di rumah rasa kantuk tidak kunjung datang yang membuat gw memilih untuk mengerjakan hal lainnya hingga sekitar pukul 02.30 dini hari. Alasan yang tidak bisa diterima. Nggak banget, kalo kata anak muda sekarang. Tidak profesional menurut para profesional. Singkat kata memang dasar gw yang malas.

Acara yang akan gw hadiri adalah kunjungan pabrik dari TMAP (Toyota Motor Asia Pasific). Kunjungan tersebut adalah bagian dari rencana TMAP untuk melakukan global sourcing (mencari sumber bahan baku/material baja untuk basis produksi otomotif mereka di Asia Pasifik), salah satunya ke produsen baja di Indonesia ini. Tentu saja skalanya adalah "prioritas" karena mereka merupakan konsumen potensial yang besar.

Awalnya gw gak terlalu mikirin skala prioritas itu. Karena toh tugas gw selesai begitu materi presentasi yang gw buat itu selesai. Tapi begitu menelpon teman gw Yoan yang berkata "Nanti kalo ada yang ditanya dari materi itu gimana Jrin, khan elo yang bikin??? kalimat itu bikin gw makin bimbang. Sehari sebelumnya gak ada respon dari sebagian orang yang gw kirimi draft materi presentasi itu. Hal itu bikin gw makin bimbang. Pasti belum dibaca sama yang lain. Gw putuskan untuk tetap datang hanya sekedar untuk setor muka dan menenangkan kekhawatiran tersebut.

Gw berangkat dengan rencana menggunakan bis umum jurusan merak yang biasa ngetem di seberang RS Harapan Kita, Slipi. Untuk menuju ke sana gw putuskan menggunakan taksi dan dapatlah Taksi express itu. Sekitar jam 07.00 waktu yang ditunjukkan di dalam taksi Express. Dengan gaya kayak orang penting kayak di iklan-iklan ituh (:p), gw bilang sama supirnya " I am in the rush...."

Change the Route

Di dalam taksi express itu gw pun nyerocos untuk melepaskan ketegangan. Gw bilang kalo gw berencana untuk menaiki bis jurusan merak dari depan RS Harapan Kita, karena batal berangkat bareng teman dari kantor. Sopir itu yang terlihat terpengaruh dengan ketergesaan gw itupun tiba-tiba bertanya, kenapa gak dari Kebon Nanas saja pak? Menuju slipi dengan macetnya mungkin sama dengan jarak tempuh menuju Kebon Nanas. Jarak dari Kebon Nanas juga lebih dekat dengan Cilegon. Sopir itu tiba-tiba menganalisa sendiri jarak tempuh dan kemungkinan macet di beberapa rute. Gw mendengarkan dan akhirnya terpengaruh mengikuti sarannya.

Masih di sekitar margonda pada pukul 07.10 waktu taksi Express, keadaan jalan ramai lancar.Kemudian gw cerita tentang rencana awal gw untuk berangkat bersama teman dari kantor namun urung karena kesiangan sehingga gw harus naik bus umum dengan resiko sampai Cilegon saat makan siang dan mungkin acaranya sudah selesai. Gw cerita kalo rute biasanya yang gw tempuh dari kantor adalah langsung masuk tol pancoran melewati slipi kemudian kebon jeruk terus sampai Cilegon. Gw juga cerita mungkin teman gw yang harusnya gw tebengin dari kantor itu juga sudah berangkat dan akan melewati rute tersebut. Sekali lagi sopir itu menganalisis dan kemudian menyarankan hal lainnya. "Kalo teman bapak berangkat jam 07.00 dari Gatsu dan menggunakan rute itu, mungkin lebih baik kalo bapak janjian dengan teman bapak itu di Karawaci aja pak? Dari tanjung barat langsung lewat tol pondok indah menuju Karawaci. Ide bagus, namun yang gw khawatirkan adalah biaya yang harus gw keluarkan dan posisi Yoan yang tentu sudah berangkat dari kantor.

Untuk biaya argo sopir itu memperkirakan akan berkisar 100-150 ribu dengan jarak tersebut. Gw pikir gak masalah kalo memang harus begitu. Masalah kedua, gw harus menelpon Yoan dan memintanya menunggu gw di suatu tempat di Karawaci. Namun masalah ketiga muncul, ternyata sisa pulsa gw kurang dari Rp3 ribu dan gak bisa nelpon.

Taxi Story

Sopir itu menawarkan memakai telponnya. Tapi gw pikir gw harus isi pulsa untuk keperluan sepanjang jalan. Solusinya tentu adalah minta tolong temen untuk isi pulsa. Iffan salah satu temen kantor gw, yang juga jualan pulsa sangat membantu dalam saat-saat seperti ini. Setelah pulsa diisi gw pun menghubungi Yoan dan mengatur waktu untuk ketemu di suatu tempat di Karawaci. Akhirnya disepakati di depan UPH, sebelum pintu masuk tol Karawaci.

Sepanjang perjalanan gw bertanya tentang seluk beluk pekerjaan sebagai sopir taksi. Ternyata sopir taksi yang gw tumpangi itu baru seminggu bekerja di taksi express. Sebelumnya Ia bekerja di Blue Bird dan alasannya pindah adalah sistem insentif kerja di express yang lebih menarik untuknya. Di Express ia berkewajiban untuk memberikan setoran sebanyak Rp 280.000/hari selama 6 tahun. Setelah itu Ia bisa memiliki taksi Toyota Vios itu. Itu yang membuatnya pindah dari Blue Bird.

Kalau dilihat saat ini persaingan di bisnis taksi memang didominasi oleh taksi Blue Bird yang menguasai sekitar 54% pangsa pasar bisnis taksi di Indonesia. Sementara Express, bersama 44 perusaahan taksi lainya berbagai pangsa pasar sisanya. Namun belakangan ini Express yang merupakan mesin uang konglomerat Peter Sondakh adalah salah satu perusahaan taksi yang berkembang cukup pesat seperti terlihat pada ekspansinya yang memasuki persaingan taksi premium dengan meluncurkan Tiara Express pada 2008 lalu.


Sambil terus ngobrol, taksipun terus melaju melalui jalan tol pondok indah dengan kecepatan lebih dari 100 KM perjam, melewati kawasan pemukiman Alam Sutera, Gading Serpong, masuk tol Tangerang Karawaci dan akhirnya sampai di depan UPH.Kalo lihat di google maps jarak Depok-Karawaci hanya 53 Km dengan asumsi jalanan kosong waktu tempuh diperkirakan sekitar 60 menit. Total waktu tempuh aktual sekitar 1 jam 30 menit. Masih masuk akal dengan macet dibeberapa tempat yang gw lewati sebelumnya. Sampai di UPH sekitar pukul 08.30.Setelah membayar taksi dan mengucapkan terima kasih , gw pindah dari taksi ke mobil Yoan yang sudah 30 menit menunggu . Perjalanan masih sekitar 1 jam lagi, yang artinya tetap akan telat dan memang akhirnya telat.

Sesampai di sana jam 09.30, telah 30 menit dan acara sudah dimulai dengan sesi presentasi dari TMAP terlebih dahulu dan kemudian diikuti presentasi Krakatau Steel. Yang membawakan presentasi adalah Pak Bima dengan materi presentasi yang gw buat dan selesai acara dia bilang "Kamu sih telah, jadinya saya yang ngomong nih". Dalam hati gw bilang syukurlah gw telat, kalau enggak bakalan gw yang dag dig dug di depan orang-orang itu. So that day, I have been rush for nothing...but anyway thanks for Express & the Driver (Dedy, 8073) for the nice ride...

READ MORE - A Morning Rush

Sunday, October 17, 2010

Badut

Menganggap hidup sebagai sesuatu yang serius adalah....SALAH. Hidup adalah lelucon dan kita adalah badut-badutnya. Menjadi badut bukanlah sebuah pilihan. Bagi sebagian orang, hidup bukanlah soal memilih, tetapi menjalani apa yang ada. Determinis, menjadi korban, dan pasrah hingga akhirnya....menjadi badut. Seorang badut membuat orang tertawa dan menertawakan hal-hal bodoh yang dia lakukan. Badut ada dimana-mana, bukan cuma di Dufan atau pesta ulang tahun anak-anak kecil dengan baju warna-warni dan hidung bulat yang lucu nan menggemaskan. Salah satunya pernah gw lihat di kantor saat melangsungkan sebuah acara makan malam dengan tamu dari luar.
Mirip dengan salah satu adegan dalam film Dono Kasino Indro jaman dulu itu. Kejadiannya berlangsung di sebuah restoran Jepang di Hotel Gran Melia gak jauh dari kantor. Setelah jam pulang kantor, gw bersama beberapa teman kantor salah satunya sang tokoh utama untuk adegan itu, Pak Maman (bukan nama sebenarnya) menuju restoran itu. Gw baru pertama kali itu kenal dengan Pak Maman walaupun sudah beberapa kali melihat figurnya berseliweran di gedung kantor. Orangnya kurus kecil berkumis dengan logat betawi yang kental. Kesan pertama melihat potongan seperti itu adalah karakter yang serius tapi kesan itu akan langsung luntur begitu lo udah denger suara cemprengnya dan omongannya yang sok serius tapi gak jelas apa maksudnya.

Karena melibatkan jajaran direksi maka protokoler kantor pun diberlakukan. Sesuai protokoler ruangan dipisahkan menjadi dua kelas berdasarkan kastanya, untuk high level person diruang VIP dan kroco di LUAR ruangan VIP * untungnya masih di dalam restoran sih...bukan di luar terasnya *. Gw, dan Pak Maman masuk dalam kelas kroco. Saat memesan makanan dalam menu, Pak Maman tampak akrab sekali dengan beberapa pelayan di sana, seakan sudah sering bolak-balik makan di sana.

Pemilihan makanan dari menu yang ada pun dilakukan. Sementara gw masih bolak-balik daftar menu, Pak Maman sudah menyebutkan makanan pesanannya. Sekilas terdengar Pak Maman menyebutkan pesanan untuk dibungkus dan nanti dia akan mengambilnya dibelakang. Gw senyum-senyum dan nyengir sendiri. *tiba2 dapet inspirasi : lain kali gw jadi kepengen bungkus untuk dibawa pulang*. Kemudian dilanjutkan dengan pemesanan minuman. Saat memilih minuman dan tidak menemukan jenis minuman yang sesuai. Pak Maman pun memanggil sang pelayan dengan gaya Aristokratnya. "Kalo jus ada gak?" tanya Pak Maman. "Ada Pak , Mau Jus apa Pak? " jawab sang pelayan. Setelah menyebutkan pesanannya. Berlalulah sang pelayan dan sembari menunggu pesanan kami berbincang-bincang ngalor-ngidul.

Makanan diantarkan, acara makan dilakukan dengan penuh khidmat mengingat harganya yang cukup bikin deg-degan kalo pake duit sendiri. Gw melihat kiri kanan gw dan memerhatikan pesanan masing-masing yang menunya berbeda sambil membayangkan siapa yang paling mahal dan berpotensi merugikan perusahaan, dan negara tentunya. Mudah-mudahan bukan gw. Tak lama minuman pun diantarkan. Segelas untuk Pak Maman dan segelas lagi untuk ajudan Pak Direktur yang ikut dipesankan juga oleh Pak Maman, seakan-akan dialah bosnya. Jus Strawberry yang tampak spesial dengan ukuran gelas cukup besar. Jelas bakal merugikan negara.

Sementara ruangan di high level person masih ramai, di ruangan kroco sudah sepi. Jatahnya cuma sedikit di luar sini. Tanpa menunggu acara selesai acara penandatangan "bill' pun dilakukan. Pak Maman menjadi delegasi perusahaan untuk urusan ini. Pembayaran dilakukan seperti biasa tetapi ada satu jenis pesanan yang tidak bisa dilakukan seperti " biasa". Pesanan itu, seperti mas kawin harus dibayar TUNAI. Pak Maman nampak panik, namun berusaha cool, menjaga benteng kehormatannya yang mulai diganggu gugat.

"Loh kok gak bisa dimasukan ke dalam bill perusahaan???" Tanya Pak Maman dengan cemas. "Kalo jus ini pesannya di restoran lain Pak jadi gak bisa disatukan dengan bill yang biasa. Harus dibayar tunai Pak" jawab sang pelayan dengan sedikit memaksa. "Ahhh tadi pelayan yang satu bilang bisa…" sanggah Pak Maman dalam posisi semakin terjepit. Seinget gw gak ada yang bilang gitu sih (jago ngarang juga nih si Maman) , si pelayan cuma bilang jus nya ada tp emang gak dibilang di pesan dari restoran lain. Ternyata si pelayan lupa (atau mungkin sengaja lupa) memberi tahu bahwa karena pesanan diperoleh dari restoran sebelah maka harus dibayar tunai karena gak bisa dimasukin ke dalam bill perusahaan. Itu yang jadi masalah.

"Wah saya gak bawa uang tunai nih, kartu juga gak ada. Pokoknya masukkin ke bill aja deh" Pak Maman tetap ngotot walau kehabisan amunisi. Satu gelas jus strawberry yang spesial tadi ternyata seharga Rp150.000 dan Pak Maman bener-bener gak bawa uang tunai. Mendengar perdebatan sengit soal jus tadi gw bingung bagaimana menempatkan diri. Di dompet gw ada uang tunai lebih dari cukup untuk membayar 2 gelas jus mahal itu *sombong*. Tp gw gak rela menawarkan diri. Takut gak dibalikin...hhe *jahat bener*. Lagipula gw khawatir mencederai harga diri Pak Maman yang sedang diuji oleh keadaan. Sepanjang kejadian yang menjepitnya itu dia juga tak berusaha meminta bantuan gw dan lainnya, seakan-akan semuanya undercontrol. Gw khawatir merusak keadaan kalau menawarkan bantuan. Jadilah Pak Maman menghadapi keadaan itu sendiri dengan tabahnya *lebih tepatnya….dengan malunya*. Persis sekali dengan adegan di salah satu film Dono-Kasino-Indro.

Tapi selayaknya badut dengan muka tebalnya tak ada sedikitpun penyesalan yang muncul, Ia hanya tertawa seperti badut. Bahkan saat bos gw mengungkapkan kembali cerita itu di depan orang lain beberapa waktu lalu saat melewati Hotel tempat kejadian perkara, Pak Maman pun ikut menertawakan dirinya. Getir tentunya. Karena mungkin hidupnya telah cukup getir dengan banyak hal yang gw sendiri belum pahami. Ada dua cara seseorang menghadapi tekanan hidup, bertempur dengannya atau menertawakannya. Fight or Flight. Pak Maman memilih yang kedua. Kejadian memalukan itu mungkin bagi Pak Maman tak ada artinya karena dia adalah salah satu tipe orang yang tidak terlalu memusingkan hidup. Dia adalah tipe pekerja yang seumur-umur berada dalam kondisi yang itu-itu saja. Karena keadaan tersebut mungkin ia pun mencari peningkatan dari sektor lain, salah satunya kesempatan semacam itu.

Pak Maman hanyalah badut kecil yang hanya berusaha memanfaatkan situasi untuk mendapatkan sedikit kemewahan yang mungkin jarang dinikmatinya. Sewaktu kejadian diatas saat ia membungkus makanan untuk pulang, ia sempat menelpon keluarganya dan mengatakan bahwa Ia sebentar lagi pulang dan akan membawakan mereka makanan. Menyentuh.

Awalnya gw menertawakan perilaku tersebut. Tapi di balik itu semua tentu ada penyebabnya. Entah karena mental rasa memiliki terhadap perusahaan yang tinggi, sehingga mengambil semua hal yang mungkin diambil dari perusahaan atau memang ada sesuatu yang belum tercukupi. Mungkin sesuatu yang kurang itu mencakup kebutuhan dasar sehingga melakukan hal-hal diluar standar.

Badut-badut kecil seperti Pak Maman memilih untuk menertawakan hidup daripada memusingkannya. Namun kadang hal seperti itu memperlihatkan gw satu perspektif baru bahwa MENGANGGAP hidup sebagai sesuatu yang serius adalah....SALAH...............
..........MENJALANI hidup dengan serius adalah yang BENAR.

READ MORE - Badut