Pages

Thursday, August 07, 2014

A Ticket to Middle Earth

Waktu itu tahun 2011 ketika saya masih cukup muda, tapi lama di perusahaan yang sama,posisi yang sama (dan gaji yang sama). Tak ada yang salah dengan pekerjaannya. Tapi berada di tempat yang sama terlalu lama selalu membuat gelisah. Ditambah krisis perempat baya dengan kegelisahan yang mengelayutinya, cukup jadi bahan bakar yang mendorong pergi ke tempat yang jauh, sejauh Middle Earth, walau gak tahu mencari apa. Bertemu para hobbit mungkin.

Middle earth seperti digambarkan dalam novel fiksi Lord of the Ring (LOTR) yang juga sudah difilmkan adalah sebuah lokasi imajiner yang merupakan pusat benua yang ada di bumi. Tempat itu adalah New Zealand, setidaknya lokasi syuting LOTR di sana, karena Middle Earth yang sebenarnya tak pernah ada. Saya jatuh cinta dengan New Zealand saat menyaksikan film tersebut.

Di awal tahun 2011, kota Christchurch di New Zealand mengalami gempa yang mengganggu kondisi pariwisata di sana. Beberapa bulan setelah itu muncul promo AirAsia untuk penerbangan Jakarta-Christchurch. Sempat khawatir gempa susulan di sana, tapi saya nekat beli tiketnya. Business class dengan harga Rp. 3,6 juta pergi pulang adalah barang langka. 



A Solo Traveling to Middle Earth

Akhir November 2011, saya berangkat dari Jakarta menuju Christchurch melalui Kuala Lumpur, seorang diri. Traveling sendirian memberi saya kesempatan untuk menikmati setiap momen secara personal.

Setelah sekitar 13 jam penerbangan, pesawat memasuki wilayah udara New Zealand seperti diumumkan oleh awak pesawat. Beberapa saat sebelum pesawat mendarat, penumpang di sebelah saya yang merupakan warga negara New Zealand memberikan kursinya di sebelah jendela agar saya dapat melihat keluar. Dia bilang “Look that’s Aoraki. We are in Middle Earth now”.  Aoraki adalah pegunungan tertinggi di New Zealand dikenal juga dengan Mount Cook, dimana sebagian besar lokasi LOTR berlangsung. Ya, saya tiba di Middle Earth dan melakukan perjalanan ini sendiri.



Malam pertama saya tinggal di kota Christchurch yang sedang berbenah pasca gempa. Saya hanya menginap semalam dan besok paginya lanjut ke Greymouth menggunakan Kereta TranzAlpine. Perjalanan ditempuh selama 4 jam menyusuri Canterburry Plains, melewati lembah Waimakariri River menuju pedesaan Southern Alps yang disebut ArthurPass dimana kereta berhenti sejenak sebelum melanjutkan perjalanan menuju Greymouth melewati Beech Rain Forest. Saya sangat senang saat keluar dari gerbong utama menuju gerbong terbuka pada bagian depan kereta untuk berdiri dalam posisi bebas dan merasakan tiupan angin kencang sambil menikmati pemandangan Southern Alpine, tanpa sekat apapun 



Hanya saya, angin dan pegunungan itu…hening seperti dalam keabadian

Kemudian saya masuk angin....dan sialnya, Tolak Angin saya telah disita petugas bandara Christchurch karena mengandung madu.

Di kereta TranzAlpine saya bertemu dengan gadis Malaysia yang juga solo traveler, namanya Netty. Tujuan kita sama yaitu Franz Josef glacier dan Queenstown. Dia menyewa mobil dari Greymouth menuju ke dua destinasi tersebut dan mengajak saya untuk ikut. Kami melakukan road trip menyusuri West Coast dengan mobil yang ia sewa menuju destinasi pertama, Franz Josef untuk melihat glacier di puncak gunung. Ini adalah pertama kalinya saya merasakan es di pegunungan. Setelah menginap semalam kami lanjut ke Queenstown yang ditempuh selama 4 jam.



Saya menetap selama 3 hari di Queenstown dan mengunjungi berbagai lokasi menarik. Saya memilih untuk mengunjungi Milford Sound, tour ke Aoraki sambil melihat lokasi syuting LOTR. 



Keesokannya saya bertemu Darryl, teman saya yang tinggal di Queenstown. Darryl mengantar saya ke beberapa lokasi menarik di sekitar Queenstown dengan kendaraannya. Yang paling saya suka dari New Zealand adalah mirror lakes yang bisa ditemukan di sebagian besar wilayah ini. Saya suka duduk-duduk tanpa melakukan apapun di tepi danau, memandangi pantulan latar gunung dari danau cermin. Momen seperti ini memberikan saya kesempatan untuk ikut bercermin tentang hidup.



Sunrise in Deborah Bay

Kembali ke Queenstown saya berpamitan dengan Netty dan mengucapkan terima kasih atas tumpangannya. Kemudian saya melanjutkan perjalanan ke Dunedin, kota kecil di daerah Otago, sementara Netty ke Aoraki. Saya menginap di rumah teman yang saya kenal melalui jaringan pertemanan para pejalan CouchSurfing. Namanya Yuhsien Yien, imigran dari Taiwan yang telah lama menetap di New Zealand. Di sana saya bertemu dua CouchSurfer dari Polandia yang sedang menginap, Grazia dan Monika.

Lokasi rumah Yuhsien berada di pinggir pantai Deborah Bay, langsung menghadap ke samudera. Pagi harinya kami duduk bersama menanti sunrise sambil mendengarkan cerita Yuhsien ketika dia memutuskan pindah dari Taiwan dan menetap di New Zealand.

Matahari pagi muncul dari arah dermaga Deborah Bay, dimana kapal-kapal itu bersandar. Melihat kapal-kapal yang bersandar di dermaga dengan latar matahari terbit yang perlahan-lahan naik, saya ingat nasihat dari teman yang entah dia kutip darimana:


 “tempat yang paling aman bagi sebuah kapal adalah dermaga, tapi bukan itu alasan kapal dibuat.."

Seperti juga cerita Yuhsien yang merasa tempat paling aman bagi dia adalah rumahnya di Taiwan. Tapi bagi dia, hakikat manusia adalah berkelana dan mencari, seperti kapal yang dibuat untuk berlayar.

Siangnya saya beranjak dari tempat Yuhsien untuk melanjutkan perjalanan menuju Christchurch dan kembali ke Jakarta. Grazia dan Monika mengantar saya ke pusat kota. Mereka melanjutkan perjalanannya dengan kendaraan yang mereka sewa sementara saya kembali ke Christchurch menggunakan Naked Bus. 



Dari namanya saya pikir bis itu berisi bule-bule telanjang atau setidaknya pake bikini (ngarep). Ternyata saya salah, cuma sopirnya yang telanjang (bohong dehh). Di dalam bus saya berkenalan dengan 3 orang pejalan lainnya dari Taiwan, Malaysia dan Thailand. Mereka semua sama-sama menggunakan AirAsia dengan penerbangan yang sama. Kami tiba di bandara lebih awal dan menghabiskan waktu di bandara bercerita kisah perjalanan masing-masing di Middle Earth.

Setiap pejalan memaknai perjalanannya secara berbeda. Seperti yang saya dengar dari cerita teman baru saya di naked bus tadi, Sophia, Catherlin, Chommi, Jin Yoo, yang menceritakan middle earth versi mereka. Middle earth versi saya adalah sebuah tempat yang saya tuju untuk menemukan teman baru, inspirasi baru dan yang paling utama menemukan diri saya dan memahami bahwa seperti kapal, saya pun tidak bisa berlama-lama tinggal di dermaga, karena kapal dibuat untuk berlayar.



Itu adalah Middle Earth saya, yang tiketnya saya peroleh dari AirAsia.

*Enam bulan kemudian, saya keluar dari pekerjaan saya di BUMN. Masih di lautan yang sama. Karyawan di perusahaan lain. Yang jelas keluar dari “dermaga" dan berlayar. Menyiapkan diri untuk lautan yang lebih luas nantinya.

1 comment:

Gol Fifa said...



mau main taruhan bola online, aman dan terpercaya. agent sbo ibc maxbet resmi. dengan promo bonus member baru dafftar segera di https://goo.gl/OQKZcJ
Whatsapp : +8498764303
BBM : 7AABD79C
WeChat : fifagol
LINE : fifagol
Bank Support : BCA, MANDIRI, BNI, BRI
Facebook : https://www.facebook.com/fifa.gol.7
atau mau liat gambar sexy abg https://goo.gl/8QSaFv atau tante sexy https://goo.gl/Hm3qfT berita bola pun ada https://goo.gl/ltFSUY yuk berkunjung

Prediksi bola dan berita

Abg Sexy Pamer toket

Jablay pamer meki

Agen terpercaya MAXBET

Agen resmi terpercaya SBO*BET