Pages

Thursday, January 09, 2014

NusantaRun: Berlari dengan Hati

"If you cannot run with your legs, run with your HEART"

Di kilometer 30, sekitar East Coast pada rute Standard Chartered Singapore Marathon (SCMS) 2013 terpampang kutipan itu yang merupakan salah satu dari motivation quote yang dipajang untuk membangkitkan semangat para peserta amatir dan pemula seperti saya, yang mulai merasa menyesal mengikuti lomba lari marathon berjarak 42,2 kilometer. Rasanya ingin mencopot kaki ini dan mengganti dengan yang baru, layaknya ban mobil yang bisa diganti pada saat pertandingan formula one.  Sayangnya hal itu tidak mungkin. Yang mungkin adalah menambah bahan bakarnya, motivasi. Setidaknya ada dua hal yang dibutuhkan untuk mencapai garis finish pada setiap lomba lari jarak jauh, yaitu modal fisik, dan modal motivasi untuk menyelesaikan apa yang telah dimulai.

Modal pertama diperoleh dengan mempersiapkan otot-otot kaki melalui latihan yang cukup lama. Sementara modal kedua terkait dengan tujuan masing-masing pribadi. Keduanya bisa dilatih, tapi modal fisik ada batasnya. Pada umur tertentu kemampuan fisik seseorang akan mengalami penurunan, namun sebaliknya motivasi tak terbatas karena letaknya yang berada di ruang tak berhingga. Besarnya tak terukur sejauh kita meyakininya. 

Ketika fisik mengalami kelelahan dan pikiran mengatakan ingin berhenti, satu-satunya bahan bakar untuk tetap berlari adalah ketetapan hati untuk mencapai garis finish dengan kaki sendiri. Motivasi ada dalam benak seseorang yang merupakan proses yang mendorong, dan menjaga agar tujuan yang diinginkan tercapai. Proses tersebut melibatkan aspek biologis, emosi, sosial dan kognitif yang mengaktifkan perilaku untuk bertahan pada tujuan awal. Semakin kuat motivasi tadi semakin besar energi yang dimiliki seseorang untuk mencapai tujuannya. Kabar baiknya adalah, motivasi layaknya energi terbarukan tidak akan pernah habis selama kita meyakininya.

Salah satu motivasi yang kuat terkait dengan dorongan sosial dan kognitif adalah beramal dan berbagi. Tujuan beramal inilah yang mendorong sekelompok orang untuk berlari sambil mengumpulkan amal seperti yang dilakukan NusantaRun pada 28 Desember 2013. NusantaRun adalah sebuah acara yang diadakan dan didukung oleh beberapa komunitas lari yaitu : Bintaro Trojan Runners, Depok Running Buddy (Derby), IRunURun Pondok Indah, dan Running Rage. NusantaRun bermaksud mengajak para sukarelawan pelari dan donatur untuk berlari dan mengumpulkan dana untuk disumbangkan kepada organisasi nirlaba Care4Kids Indonesia. Dana yang dikumpulkan akan digunakan untuk membantu pendidikan anak-anak Indonesia dalam bentuk beasiswa dan bantuan peralatan kepada sekolah-sekolah yang membutuhkan.

Ide awalnya datang dari Jurian Andika dan Christopher Tobing yang kemudian mendapat respon positif dari rekan-rekan pelari dari komunitas lari lainnya hingga akhirnya berhasil menjaring sebanyak 45 penggemar lari untuk ikut berpartisipasi. Acara ini juga didukung banyak sularelawan yang menjadi bagian tim yang terdiri dari 13 pesepeda, tim dokumentasi dan beberapa orang yang berada pada mobile station yang menyediakan minuman dan keperluan medis bagi pelari yang membutuhkan. Mereka semua mendampingi dan mengawal pelari sepanjang jalur Monas ke Bogor yang merupakan seri pertama dari kegiatan ini.

Bagi saya Nusantarun adalah sebuah bentuk turun tangan dan aksi nyata untuk menyelesaikan masalah. Tidak hanya sebatas berwacana atau menunggu orang lain melakukannya. Tujuan dari para pelari itu sangat sederhana, mereka ingin berbagi melalui apa yang mereka senangi. Itu saja. Sederhana tapi nyata. Saya melihat mereka adalah orang-orang yang optimis terhadap masa depan Indonesia dan memutuskan berhenti mengutuki kegelapan dan mulai dengan hal sederhana, berlari.

Niat dari para pelari ini pun didukung oleh para donatur yang berpartisipasi melalui sumbangan (pledge) yang mereka kirimkan melalui pelari bersangkutan. Hingga saat tulisan ini dibuat telah terkumpul dana lebih dari 110 juta rupiah dan pengumpulan dana masih akan terus dilakukan hingga 11 Januari 2014.

Berlari dari dua tempat yang cukup bersejarah, Monumen Nasional dan Kebun Raya Bogor dengan jarak sekitar lima puluh lima kilometer adalah hal yang menantang sekaligus romantis. Menghubungkan sebuah cerita tentang republik ini di masa awal berdirinya. Anda bisa mendatangi kedua tempat tadi dengan menempuh kendaraan yang mungkin hanya akan memakan waktu 2-3 jam perjalanan. Namun perjalanan menggunakan kendaraan adalah hal yang terlalu biasa sehingga mereka memilih berlari untuk merasakan dan bersentuhan langsung dengan segala hal dalam perjalanan.

Dimulai dari pintu tenggara Monas, saya dan 33 pelari lainnya mulai berlari pada pukul 3 pagi melewati kawasan Thamrin. Suasana sunyi jalanan Thamrin-Sudirman-Gatot Subroto sangat kontras dengan suasana macet yang selama ini kita lihat. Pagi itu jalanan milik kami, para pelari. Berlari menikmati lenggangnya jalanan sambil memandangi gedung-gedung Jakarta dengan cahaya minim yang romantis. Memasuki Pasar Minggu, saya dan pelari lainnya berpapasan dengan banyak pedagang yang telah lebih dulu berada disana melakukan perniagaan. Memperlihatkan denyut kota Jakarta yang tak pernah berhenti. Pada pukul 05.00 para pelari berhenti untuk melakukan ibadah sholat Shubuh bagi yang muslim sementara peserta lainnya beristirahat. Berhenti sejenak untuk mensyukuri nikmat yang telah diberikan Nya hingga hari ini. Alhamdulillah.

Kemudian kami berlari menuju kota Depok, tempat saya tinggal, melalui jalur Margonda menuju titik perhentian selanjutnya. Di titik ini kemudian bergabung 11 pelari lainnya untuk bersama-sama menuju Kebun Raya Bogor melalui jalur Cibinong dan memasuki kota Bogor yang memiliki ciri khas angkot di mana-mana. Cuaca panas dan kondisi jalan yang ramai adalah tantangan pada rute ini yang menguji ketetapan hati para pelari. 


Seperti yang saya alami pada beberapa lomba lari marathon sebelumnya, kilometer 30-40 adalah ujian sekaligus momen ketika saya berbicara dengan diri saya sendiri tentang batas-batas yang saya miliki dan tujuan yang ingin saya capai. Momen ini mengundang kembali kenangan saya pada masa-masa dulu ketika mengalami kesulitan membiayai kuliah, menyelesaikan skripsi dan ketika semua masalah menumpuk di depan mata seperti sebuah tembok tinggi. 

Pada saat itu saya berbisik pada diri saya sendiri untuk tidak berhenti sebelum mencapai garis finish. Saya menyampaikan pesan dari hati dan pikiran saya kepada sel-sel di tubuh ini untuk menyatukan komitmen menyelesaikan apa yang telah saya mulai. Pada fase ini bukan lagi kaki yang berlari, tapi hati.

Akhirnya sekitar pukul 13.00 sebagian besar peserta berhasil sampai di garis finish dengan bahagia, dengan beberapa peserta yang harus dievakuasi karena kondisi yang tidak memungkinkan. Saya sendiri baru mencapai garis finish sekitar pukul 14.00 setelah melewati jalanan kota bogor dengan jumlah angkot yang lebih banyak dari penumpangnya. Inilah bentuk baru menikmati perjalanan melalui berlari dan bersentuhan langsung dengan udara, debu, aspal, terik matahari dan senyum ramah setiap orang yang kami temui di setiap kilometernya.

Apa yang saya lihat dan rasakan dari para pelari lainnya adalah mereka tidak hanya berlari untuk menikmati keindahan kedua tempat tadi tetapi juga ingin melakukan sesuatu yang berguna bagi Nusantara, membantu pendidikan anak-anak Indonesia sekecil apapun itu bentuknya. Suatu hal yang berasal dari hati. Sebuah motivasi yang tulus yang menggerakkan setiap pelari untuk menyelesaikan apa yang telah mereka mulai sejak pukul 3 pagi di Monas saat sebagian besar orang masih tidur terlelap. Mereka mulai berlari di saat gelap masih menyelimuti Jakarta seakan ingin menyatakan bahwa mereka berhenti mengutuki kegelapan dan berlari untuk berbagi. 


Berlari dengan hati

No comments: