Pages

Sunday, September 09, 2012

Asuransi

Di saat-saat khawatir, asuransi jadi hal yang penting.Terutama ketika berdampingan dengan resiko yang besar. Adanya fase perpindahan dalam pekerjaan yang membutuhkan tenaga lebih untuk beradaptasi membuat gw merasa sangat khawatir hal-hal lebih buruk mungkin menimpa di waktu nanti. Ditambah lagi kekhawatiran bahwa dengan resiko tersebut orang-orang disekitar gw harus ikut menanggungnya ..

Di tengah-tengah rasa khawatir itu, secara kebetulan seorang kolega dari perusahaan tempat gw bekerja sebelumnya, menghubungi gw dan menawarkan asuransi. Singkat kata gw tertarik, karena memang sudah berencana untuk membeli polis asuransi dari jenis selain yang gw punya saat ini. Pas banget, emang rejekinya dia.

Sebelum gw cerita tentang asuransi, ada yang menarik yang mau gw cerita di sini. Kolega gw ini adalah seorang GM (General Manager) di BUMN tempat gw bekerja dulu dan ketika bertemu untuk menjelaskan produk asuransinya dia banyak bercerita tentang kegiatan sampingannya ini. Awalnya gw agak heran, dengan gajinya yang saat ini sebagai GM, buat apalagi jualan-jualan asuransi kayak begini. Si Ibu ini pun bercerita tentang beberapa hal yang mendorongnya “nyambi” jadi agen asuransi. 

Pada dasarnya si Ibu ini orang yang sangat lincah berbicara dan pintar “menjual” sesuatu. Konon, dia juga menjadi orang yang cukup berpengaruh dalam keputusan CEO kantor gw yang lama waktu itu. Seorang pembisik, kira-kira begitulah teman gw yang lain mendefinisikan karakter si Ibu ini yang pandai menjual ini. Tapi di ujung ceritanya mengenai alasannya menjadi agen asuransi, dia juga bercerita tentang kekhawatirannya menghadapi masa pensiun nanti.

 “Uang pensiun saya nanti katanya cuma segini lohh Jrin” ceritanya sambil menyebut angka nominal setara dengan gaji terakhir gw waktu di BUMN itu. Entah seberapa akurat hal itu, yang jelas kekhawatirannya nampak nyata. Singkat kata gw pun terpengaruh karena rasa segan terhadap kolega dari kantor yang lama yang notabenenya juga atasan tidak langsung di kala itu. Pengetahuan gw tentang produk keuangan gak terlalu dalam dan sebelum menulis tentang postingan ini juga belum mau mendalami. Jadi gw belum bisa membedakan satu produk dan lainnya dan nilai ekonomi dari masing-masing investasi tersebut secara relatif satu sama lain. Jadi akhirnya gw mengiyakan tawaran kolega gw tadi karena sungkan.

Namun setelah gw pertimbangkan sekali lagi, gw pada dasarnya hanya membutuhkan asuransi tanpa embel-embel investasi dalam produk yang disebut unit link yang sebelumnya sudah gw miliki. Kemudian  gw baca tulisan mengenai ilusi finansial dari link ini. Tulisan dalam blog itu memberikan gw pemahaman lebih baik tentang unit link dan ilusi finansial di dalamnya. Gw juga jadi teringat dengan konsep "opportunity cost" di jaman kuliah dulu. Tulisan itu menyadarkan gw untuk membuat keputusan untuk menempatkan asset harus didasari dari retun dari pilihan-pilihan yang ada. Dan yang paling penting untuk membedakan antara asuransi dan investasi. 

Salah satu teman gw pernah mendefinisikan asuransi (dalam pemahamannya dia sebagai ABG dengan pengetahuan yang sangat minim) sebagai "pacar" yang akan melindungi dia dikala sakit dan membutuhkan bantuan. Asuransi seperti layaknya pacar akan membuat dia merasa nyaman dan mengurangi rasa khawatir jika hal buruk menimpa di saar-saat tak terduga.  

Sementara itu investasi adalah menempatkan uang kita dengan mengharapkan adanya kenaikan nilai uang tersebut. Jadi jelas berbeda antara investasi dan asuransi. Bahkan temen gw yang masih ABG dan minim pengetahuan tadi pun paham tentang itu. 

Tapi, yang populer saat ini adalah produk yang menggabungkan kedua hal itu : pelindung (asuransi) dan kenaikan nilai uang (investasi). Sesuatu yang tidak fokus akan menghasilkan sesuatu yang tidak optimal. Itu prinsipnya. Selain itu cara penjualan asuransi saat ini tidak memberikan gambaran yang transparan tentang pilihan-pilihan dalam investasi tadi (tentu karena mereka agen asuransi akan membanggakan produk mereka) apalagi dengan sekelumit detail-detail yang "njelimet" sehingga akhirnya orang pun mengiyakan saja namun akhirnya berujung kepada ketidakpuasan nantinya. 

Produk seperti unit link, saat ini sangat gencar dipasarkan oleh agen-agen asuransi. Namun perlu diperhatikan berapa besarnya porsi premi dan investasi yang kita bayarkan. Kemudian coba anda hitung besarnya imbal hasil dan nilai akhir investasi itu jika dilakukan secara terpisah. Ilustrasi sederhana dari blog ini menyimpulkan unit link bersifat ilusi. 

Dari pertimbangan itu saya menyimpulkan lebih baik saya menempatkan uang saya dalam produk yang lebih menguntungkan dan membeli asuransi secara terpisah. Hasil akhirnya jauh lebih menguntungkan. Setidaknya dalam perhitungan diatas kertas.

Kembali ke soal kolega gw tadi, pada saat dia datang ke kantor gw bersama rekannya yang juga GM di BUMN itu dan memberikan prospek mengenai pentingnya asuransi ini, hal yang ditekankan seperti agen asuransi lainnya adalah "banyaknya resiko" dalam hidup kita ini. Mereka pun bercerita mengenai resiko dan kekhawatiran-kekhawatira mereka dalam hidup. Kekhawatiran  jika mereka nanti sakit dan harus dirawat di ruang kelas 1 bukan ruang VIP ? Apa rasanya jika pensiun nanti pendapatan mereka berkurang dan tidak bisa berlibur ke luar negeri? Kekhawatiran akan hilangnya hal-hal premium yang telah mereka nikmati saat ini. Semakin lama gw mendengarkan kedua orang itu bercerita gw semakin merasa ada kekosongan dari setiap kata-katanya. Gw pun jadi malu sendiri karena hal itu juga yang gw khawatirkan selama ini. Kekhawatiran yang sesungguhnnya tidak perlu, apalagi kalau gw lihat ke sekeliling gw. Banyak orang-orang yang bisa menikmati hidupnya walaupun dengan hal-hal sederhana yang dimiliki.

Gw pun belajar beberapa hal yang penting malam itu. Untuk lebih mensyukuri apa yang gw miliki saat ini, berhenti khawatir berlebihan dan untuk tidak membeli unit link. 

No comments: