Pages

Sunday, January 02, 2011

Januari dan Dua Kepala

Tahun baru sebelumnya gw selalu berlibur di pantai indah kasur, ditemani bantal, selimut dan lagu-lagu dari playlist favorit. Segala hal yang meminimumkan fungsi pengeluaran. Berkumpul di tengah keramaian menunggu detik-detik pergantian tahun baru bukan hal yang ada dalam rencana. Tapi malam itu akhirnya gw ikut ngumpul bareng teman-teman kuliah di sebuah tempat makan di EX Plaza. Gw datang telat dan baru ikut bergabung bersama mereka seusai mereka selesai menonton film. Gw sendiri gk ikut nonton karena telat datang dan akhirnya terdampar di warung kopi di dalam mall itu yang mahal sekali harganya.

Semua teman-teman gw yang datang waktu itu adalah para pejalan yang telah berkelana di banyak negara dan tentu saja topik utama obrolan adalah tentang perjalanan yang lalu dan rencana perjalanan tahun depan. Selesai makan kami menuju bundaran Hotel Indonesia, melebur bersama kerumunan massa yang telah memenuhi bundaran HI. Sambil menyaksikan atraksi kembang api yang spektakuler sekaligus pengalaman pertama menunggu detik-detik pergantian baru di sekitar bundaran HI, terlintas dalam pikiran ini tentang usia, cita-cita dan tentang untuk apa semua ini dalam hidup. Perputaran jam berakhir saat melewati menit ke 59.Putaran hari diakhiri saat malam tiba untuk memulai hari selanjutnya. Putaran minggu terlewati saat hari minggu berganti senin. Putaran tahun berganti malam itu saat Desember digantikan oleh Januari. Dan orang-orang merayakannya sambil berharap hal-hal yang lebih baik di tahun yang baru.

Dalam kekaisasan Romawi Julius Caesar pada tahun 46 B.C.E. pertama kali dicetuskan bahwa 1 Januari sebagai hari Tahun Baru. Diambil dari nama Dewa Pintu dan Gerbang, dan memiliki dua wajah, satu melihat ke depan dan satu belakang. Caesar merasa bahwa bulan dengan nama dewa Janus ini akan menjadi "pintu" yang tepat untuk tahun ini.

Secara filosofi dalam kalender Islam pun terdapat hal yang sama. Tahun Hijriyah ditetapkan pada jaman Khalifah Umar bin Khatab pada tahun 622 Masehi dengan mengacu pada peristiwa hijrahnya Rasulullah saw dari Mekah ke Madinah (Yastrib). Umat Islam memaknai pergantian tahun Hijriyah sebagai awal untuk melakukan transformasi menuju segala hal yang lebih baik.

Terlepas dari ideologi dibalik perayaan tahun baru, buat gw awal Januari adalah salah satu momen untuk melakukan refleksi dengan melihat 365 hari sebelumnya di belakang dan merencanakan 365 hari selanjutnya ke depan. Memori selama setahun ke belakang tentunya masih segar untuk dilihat dan rencana-rencana ke depan juga masih menggebu-gebu untuk di kejar. Januari adalah titik yang tepat untuk melihat ke depan sekaligus bercermin ke belakang. Sama seperti Janus, Januari memiliki dua kepala yang satu melihat ke masa lalu sementara yang satu melihat ke depan. Mari rencanakan hal-hal baik di tahun ini mumpung kita masih punya dua kepala di bulan
Januari ini.

No comments: