Pages

Sunday, December 19, 2010

A Morning Rush

Alkisah seorang pemuda malas diharuskan untuk bangun pagi dan sampai di kantor pada pukul 07.00 WIB. Sehari sebelumnya pemuda itu membuat janji dengan temannya, Yoan untuk bersama-sama berangkat menuju Cilegon untuk menghadiri sebuah acara. Pemuda itupun mengiyakan untuk bisa sampai di kantor pada jam 07.00 walaupun ia tahu penyakit sulit bangun pagi telah diidapnya sejak lama. Dengan jarak dari rumah ke kantor sekitar 25 KM dan kondisi macet rutin di pagi hari maka setidaknya Ia harus berangkat pukul 05.30 dari rumah untuk mengejar kereta pukul 05.45. Pagi itu ketika Ia bangun, waktu menunjukkan pukul 06.30, dan tentu saja Ia dalam bahaya.

Singkat kata setelah bimbang dan ragu beberapa saat, akhirnya ia memutuskan untuk tetap berangkat menggunakan bis umum karena tidak mungkin untuk tiba di kantor pukul 07.00 sesuai janji untuk nebeng bareng Yoan. Sekitar 500 meter dari rumah ia mencoba mencari Taksi. Ada satu taksi, Taxiku yang mangkal dan ia langsung mengetok jendelanya. Ternyata sopirnya, masih terlelap, masih asik dengan mimpinya. Gak peduli dengan mimpi si sopir, Ia ketok makin kencang supaya sopir itu bangun. Tetap gak bangun juga. Ia mondar-mandir di sekitar Taxiku itu beberapa detik hingga ia lihat sebuah taksi lain berwarna putih dengan lampu yang menyala.

So whats the rush??

Malam sebelumnya, menjelaskan alasan keterlambatan bangun pagi tersebut. Gw pergi menonton film bersama dua orang teman semasa kuliahnya dulu dan filmnya sangatlah lucu (Due Date) sehingga sesampainya di rumah rasa kantuk tidak kunjung datang yang membuat gw memilih untuk mengerjakan hal lainnya hingga sekitar pukul 02.30 dini hari. Alasan yang tidak bisa diterima. Nggak banget, kalo kata anak muda sekarang. Tidak profesional menurut para profesional. Singkat kata memang dasar gw yang malas.

Acara yang akan gw hadiri adalah kunjungan pabrik dari TMAP (Toyota Motor Asia Pasific). Kunjungan tersebut adalah bagian dari rencana TMAP untuk melakukan global sourcing (mencari sumber bahan baku/material baja untuk basis produksi otomotif mereka di Asia Pasifik), salah satunya ke produsen baja di Indonesia ini. Tentu saja skalanya adalah "prioritas" karena mereka merupakan konsumen potensial yang besar.

Awalnya gw gak terlalu mikirin skala prioritas itu. Karena toh tugas gw selesai begitu materi presentasi yang gw buat itu selesai. Tapi begitu menelpon teman gw Yoan yang berkata "Nanti kalo ada yang ditanya dari materi itu gimana Jrin, khan elo yang bikin??? kalimat itu bikin gw makin bimbang. Sehari sebelumnya gak ada respon dari sebagian orang yang gw kirimi draft materi presentasi itu. Hal itu bikin gw makin bimbang. Pasti belum dibaca sama yang lain. Gw putuskan untuk tetap datang hanya sekedar untuk setor muka dan menenangkan kekhawatiran tersebut.

Gw berangkat dengan rencana menggunakan bis umum jurusan merak yang biasa ngetem di seberang RS Harapan Kita, Slipi. Untuk menuju ke sana gw putuskan menggunakan taksi dan dapatlah Taksi express itu. Sekitar jam 07.00 waktu yang ditunjukkan di dalam taksi Express. Dengan gaya kayak orang penting kayak di iklan-iklan ituh (:p), gw bilang sama supirnya " I am in the rush...."

Change the Route

Di dalam taksi express itu gw pun nyerocos untuk melepaskan ketegangan. Gw bilang kalo gw berencana untuk menaiki bis jurusan merak dari depan RS Harapan Kita, karena batal berangkat bareng teman dari kantor. Sopir itu yang terlihat terpengaruh dengan ketergesaan gw itupun tiba-tiba bertanya, kenapa gak dari Kebon Nanas saja pak? Menuju slipi dengan macetnya mungkin sama dengan jarak tempuh menuju Kebon Nanas. Jarak dari Kebon Nanas juga lebih dekat dengan Cilegon. Sopir itu tiba-tiba menganalisa sendiri jarak tempuh dan kemungkinan macet di beberapa rute. Gw mendengarkan dan akhirnya terpengaruh mengikuti sarannya.

Masih di sekitar margonda pada pukul 07.10 waktu taksi Express, keadaan jalan ramai lancar.Kemudian gw cerita tentang rencana awal gw untuk berangkat bersama teman dari kantor namun urung karena kesiangan sehingga gw harus naik bus umum dengan resiko sampai Cilegon saat makan siang dan mungkin acaranya sudah selesai. Gw cerita kalo rute biasanya yang gw tempuh dari kantor adalah langsung masuk tol pancoran melewati slipi kemudian kebon jeruk terus sampai Cilegon. Gw juga cerita mungkin teman gw yang harusnya gw tebengin dari kantor itu juga sudah berangkat dan akan melewati rute tersebut. Sekali lagi sopir itu menganalisis dan kemudian menyarankan hal lainnya. "Kalo teman bapak berangkat jam 07.00 dari Gatsu dan menggunakan rute itu, mungkin lebih baik kalo bapak janjian dengan teman bapak itu di Karawaci aja pak? Dari tanjung barat langsung lewat tol pondok indah menuju Karawaci. Ide bagus, namun yang gw khawatirkan adalah biaya yang harus gw keluarkan dan posisi Yoan yang tentu sudah berangkat dari kantor.

Untuk biaya argo sopir itu memperkirakan akan berkisar 100-150 ribu dengan jarak tersebut. Gw pikir gak masalah kalo memang harus begitu. Masalah kedua, gw harus menelpon Yoan dan memintanya menunggu gw di suatu tempat di Karawaci. Namun masalah ketiga muncul, ternyata sisa pulsa gw kurang dari Rp3 ribu dan gak bisa nelpon.

Taxi Story

Sopir itu menawarkan memakai telponnya. Tapi gw pikir gw harus isi pulsa untuk keperluan sepanjang jalan. Solusinya tentu adalah minta tolong temen untuk isi pulsa. Iffan salah satu temen kantor gw, yang juga jualan pulsa sangat membantu dalam saat-saat seperti ini. Setelah pulsa diisi gw pun menghubungi Yoan dan mengatur waktu untuk ketemu di suatu tempat di Karawaci. Akhirnya disepakati di depan UPH, sebelum pintu masuk tol Karawaci.

Sepanjang perjalanan gw bertanya tentang seluk beluk pekerjaan sebagai sopir taksi. Ternyata sopir taksi yang gw tumpangi itu baru seminggu bekerja di taksi express. Sebelumnya Ia bekerja di Blue Bird dan alasannya pindah adalah sistem insentif kerja di express yang lebih menarik untuknya. Di Express ia berkewajiban untuk memberikan setoran sebanyak Rp 280.000/hari selama 6 tahun. Setelah itu Ia bisa memiliki taksi Toyota Vios itu. Itu yang membuatnya pindah dari Blue Bird.

Kalau dilihat saat ini persaingan di bisnis taksi memang didominasi oleh taksi Blue Bird yang menguasai sekitar 54% pangsa pasar bisnis taksi di Indonesia. Sementara Express, bersama 44 perusaahan taksi lainya berbagai pangsa pasar sisanya. Namun belakangan ini Express yang merupakan mesin uang konglomerat Peter Sondakh adalah salah satu perusahaan taksi yang berkembang cukup pesat seperti terlihat pada ekspansinya yang memasuki persaingan taksi premium dengan meluncurkan Tiara Express pada 2008 lalu.


Sambil terus ngobrol, taksipun terus melaju melalui jalan tol pondok indah dengan kecepatan lebih dari 100 KM perjam, melewati kawasan pemukiman Alam Sutera, Gading Serpong, masuk tol Tangerang Karawaci dan akhirnya sampai di depan UPH.Kalo lihat di google maps jarak Depok-Karawaci hanya 53 Km dengan asumsi jalanan kosong waktu tempuh diperkirakan sekitar 60 menit. Total waktu tempuh aktual sekitar 1 jam 30 menit. Masih masuk akal dengan macet dibeberapa tempat yang gw lewati sebelumnya. Sampai di UPH sekitar pukul 08.30.Setelah membayar taksi dan mengucapkan terima kasih , gw pindah dari taksi ke mobil Yoan yang sudah 30 menit menunggu . Perjalanan masih sekitar 1 jam lagi, yang artinya tetap akan telat dan memang akhirnya telat.

Sesampai di sana jam 09.30, telah 30 menit dan acara sudah dimulai dengan sesi presentasi dari TMAP terlebih dahulu dan kemudian diikuti presentasi Krakatau Steel. Yang membawakan presentasi adalah Pak Bima dengan materi presentasi yang gw buat dan selesai acara dia bilang "Kamu sih telah, jadinya saya yang ngomong nih". Dalam hati gw bilang syukurlah gw telat, kalau enggak bakalan gw yang dag dig dug di depan orang-orang itu. So that day, I have been rush for nothing...but anyway thanks for Express & the Driver (Dedy, 8073) for the nice ride...

No comments: