Pages

Tuesday, October 12, 2010

Gaya Asia

Namanya Tomotaka Fujiwara. Usianya mungkin sekitar 50-an tahun. Dilihat dari dari putih rambutnya dan jabatan yang ada di kartu namanya. Di sela-sela rapat dia menghampiri dan dengan bersusah payah menyusun kata-katanya untuk mulai menyapa dalam bahasa Inggris yang terbata-bata. Gw merasa kaget karena dia masih ingat pada staf kroco ini yang agak kurang penting perannya dalam perusahaan. Pada acara makan siang pun dia bersusah payah berpindah posisi menuju meja yang gw tempati bersama dua orang lainnya. Obrolannya dimulai dengan hal sederhana, mengenai cuaca di Indonesia belakangan ini dan bagaimana dia menikmati setiap makanan yang disajikan di sini. Dia juga mengingat-ingat pada kunjungan pertamanya beberapa bulan lalu ketika gw mengantar dia menuju bandara melewati kemacetan Jakarta. Dia sangat berterima kasih dengan hal itu. Mendengar ucapan terima kasih yang tulus dari seorang petinggi salah satu perusahaan baja raksasa dunia itu gw terheran-heran. Suatu hal kecil yang gw lakukan dihargai dengan istimewa, awalnya nampak seperti basa-basi. Tapi gw pikir itu lebih dari sekedar basa-basi, ada sesuatu di dalamnya.

Ketika itu seharusnya bukan bagian gw untuk mengantar Mr Fujiwara menuju bandara. Namun akibat lempar tanggung jawab dari pihak protokoler perusahaan jadilah gw sasaran untuk mengantar Mr Fujiwara ke Bandara, sementara orang-orang protokoler yang bod** tersebut malah sibuk mencari-cari alasan kenapa mereka tidak bisa mengantar. Gw sendiri merasa terhormat bisa mengantarkan Mr Fujiwara dan berbincang-bincang dengannya selama perjalanan menuju bandara yang sangat "menegangkan" akibat kemacetan Jakarta yang tidak dapat dihindari.

Selama perjalanan terlihat betapa Mr Fujiwara sangat antusias bertanya-tanya. Untungnya waktu itu gw berhasil membujuk salah satu staf dari anak perusahaan untuk menemani gw karena khawatir gak akan bisa menjawab pertanyaan yang mungkin ditanyakan Mr Fujiwara mengenai hal-hal teknis tentang konstruksi. Kekhawatiran gw terbukti. Dalam perjalanan, Mr Fujiwara membicarakan banyak hal mengenai aplikasi baja pada konstruksi. Setiap dia melihat sebuah bangunan dikiri kanan jalan dia membahas mengenai detail bangunan tersebut. Untuk urusan itu gw serahkan pada teman gw untuk menjawabnya.

Mr Fujiwara memperlihatkan kerendahan hati dari setiap pertanyaan yang diajukannya. Bahkan pada salah satu sesi presentasi sebelumnya, Mr Fujiwara menyimak dengan sangat perhatian dan mencatat detail-detail dari penjelasan yang diberikan oleh presenter mengenai struktur baja untuk bangunan tahan gempa. Salah satu teman gw lainnya yang sempat tinggal di Jepang untuk studinya, sempat berkomentar mengenai presenter yang nampak sangat bodoh ketika menjelaskan mengenai materinya yang tentunya Mr Fujiwara jauh lebih paham. Namun tidak terlihat adanya kesombongan dari Mr Fujiwara. Dia menyimak dengan sepenuh hati.

Kerendahan hati ala Mr Fujiwara ini sangat khas Asia dan mungkin dia adalah tipe diplomat bisnis yang bertugas membuka jalan bagi setiap kerjasama bisnis baru. Gayanya sangat santun dan menunjukkan persahabatan yang amat terasa bagi setiap orang yang bicara dengannya. Raut mukanya menunjukkan antusiasme dan keingintahuan yang besar sehingga membuat orang yang bicara dengannya merasa amat dihargai. Sekilas akan nampak keluguan seperti tokoh Nobita dalam cerita Doraemon yang dulu diputar setiap minggu di stasiun TV swasta. Namun mendengar caranya menjawab pertanyaan, walaupun hasil terjemahan interpreternya, sangat menunjukkan kelasnya dalam berdiplomasi. Nampak berbasa-basi tapi cukup dapat dipahami logika dan alasan yang digunakan untuk menjawab-pertanyaan-pertanyaan tersebut. Ia juga, seperti orang Jepang pada umumnya sangat memperhatikan detail dalam pembicaraannya.

Gaya Eastern (ketimuran) seperti yang ditunjukkan Fujiwara memang menjadi ciri sebagian besar masyarakat Asia seperti Jepang, dan Korea dimana keduanya mempunyai akar yang kuat dari budaya China. Jika dilihat dari sejarah pada abad ke 6, Jepang mengalami fase dimana pengaruh budaya Asia terutama China mulai masuk ke Jepang secara masif sebelum pada fase selanjutnya budaya barat melalui komodor Ferry mulai menginvasi Jepang (Encharta, 2008). Dalam fase tersebut Korea yang berada diantara China dan Jepang menjadi channel proses masuknya budaya China. Tidak heran kemudian jika budaya Confucianism, Buddhism, Taoism mengakar dalam ketiga masyarakat di negara tersebut. Ketiga budaya tersebut menjadi akar dalam etika ketimuran masyarakat Asia saat ini. Dalam gaya ketimuran tersebut karakter yang sangat menonjol adalah orientasi jangka panjang, hierarki dan kebersamaan dalam mencapai suatu tujuan. Hal ini berbeda misalnya dengan gaya Western (Amerika dan Eropa) yang sangat menghargai kebebasan dan pencapaian kemakmuran secara individu yang kemudian tercermin dalam gayanya yang lugas. Sementara Asia dengan gaya ketimurannya.

Melihat Mr Fujiwara juga menghilangkan stigma dalam pikiran gw selama ini dalam bisnis Jepang yang identik dengan hierarki dan kekakuan dalam bekerja seperti yang sering gw lihat dari karakter-karakter beberapa perusahaan otomotif & elektronik Jepang di Indonesia. Pebisnis di perusahaan-perusahaan itu memang identik dengan kekakuan semacam itu yang dilakukan untuk mencapai efisiensi yang tinggi dan kualitas terbaik. Kekakuan semacam itu tidak terlihat dalam kunjungan Mr Fujiwara. Selayaknya sebuah perkenalan seperti ini yang dimunculkan adalah basa-basi dan ramah tamah. Tapi tentu itu semua ada tujuannya.

Jepang, Korea dan China memang sedang gencar kembali menguasai Asia. Mereka mulai mengalihkan bisnisnya kembali ke Asia setelah krisis keuangan global di Amerika. Masih lesunya pasar di Amerika dan Eropa membuat mereka kembali ke pasar Asia yang masih menggeliat. Indonesia adalah salah satunya. Data dari Badan Investasi Korea mengatakan pada tahun 2009 terjadi peningkatan investasi Korea di Indonesia. Mereka melakukan investasi baru maupun bekerja sama dengan perusahaan lokal melalui joint venture company untuk menggarap pasar di negara tersebut. Tempat gw bekerja adalah salah satu contohnya. Setelah sukses dengan sebuah perusahaan baja Korea, kini salah satu perusahaan baja terbesar di Jepang pun mulai menjajaki hal yang sama. Mr Fujiwara, dalam hal ini menjadi figur yang akan membuka jalan tersebut dan mungkin itu yang ada di balik Mr Fujiwara dengan gaya Asianya.

No comments: