Pages

Sunday, October 03, 2010

Beyond traveling

Sesaat sebelum rapat, si Bos tiba-tiba bertanya "gimana cerita dari jalur kereta Kuala Lumpur-Bangkok-nya kemarin??". Gw mencerna pertanyaan itu beberapa saat dan akhirnya menyadari bahwa pertanyaan tersebut merujuk pada cuti gw bulan Juni lalu setelah acara konferensi di Kuala Lumpur, bukan cuti beberapa hari lalu ke Penang yang juga melewati jalur kereta. Pertanyaan yang sebenarnya sudah kadaluarsa namun baru ditanyakan.

Bulan Juni lalu gw menemani si bos untuk presentasi di sebuah konferensi di Kuala Lumpur dan kemudian melanjutkan perjalanan ke Bangkok. Waktu itu gw bilang akan coba melewati jalur darat dengan kereta, yang katanya populer dikalangan backpacker. Namun berhubung satu dan lain hal akhirnya gw batalkan dan gw putuskan untuk mengambil jalur cepat, pesawat terbang. Mendengar penjelasan tersebut si bos berkomentar, “ wah kalo gitu gak ada ceritanya donk, you can’t tell any stories with those smooth journey by airplane”.

Si Bos, yang termasuk cukup muda untuk ukuran Direktur BUMN memang sangat antusias dengan hal-hal yang berbau petualangan. Sesaat setelah dia memberi ceramah pada acara konferensi Juni lalu di Kuala Lumpur, dia pun memberi gw ceramah gratis bagaimana dia sewaktu muda dulu juga pernah melakukan perjalanan ala backpacker. Dengan hanya bermodalkan $200 (sekitar tahun 80-an), dia melakukan perjalanan menuju London. Uang tersebut ia gunakan untuk membeli tiket dari maskapai penerbangan Ceko dimana ia mendapatkan harga yang sangat murah. Perjalanan menuju London ia lakukan melalui jalur darat setelah tiba di Praha ibukota Ceko dengan melalui beberapa negara. Dia melakukan perjalanan ke Eropa tersebut untuk sebuah tujuan, mengikuti tes di London Business School. Gagal diterima di LBS pencarian dilanjutkan di negeri Kincir angin dan akhirnya berlabuh di Maastrich School of Management.

Cerita favorit ini diulang kembali oleh si Bos beberapa hari lalu menjelang rapat. Kali ini dia memberi penekanan pada ceritanya yang sedikit berwarna sindiran bahwa ketika itu dia melakukan backpacking bukan untuk sekedar jalan-jalan untuk melihat-lihat pemandangan alam seperti yang banyak dilakukan para turis hippies. Dia melakukan itu sambil belajar tentang berbagai budaya yang ditemui disana terutama bagaimana orang-orang di negara tersebut melakukan bisnis.

Untuk yang satu ini gw setuju dengan si Bos. Traveling bukan hanya soal menjelajahi suatu negara dan objek-objeknya, berbicara dengan masyarakatnya, melihat seni budanya mereka, atau mencicipi makanan yang mereka sajikan. Ada sesuatu diatas itu semua yang menjadi tujuan para traveller : pencarian sesuatu.

Seorang backpacker asal Belgia yang gw temui di stasiun Butterworth Penang Malaysia menceritakan perjalanannya mengelilingi ASEAN selama 6 minggu mulai dari Singapura, Kuala Lumpur, Bangkok, Kamboja, Myanmar hingga Vietnam melalui jalur darat. Seperti layaknya hippies lainnya pesta-pesta selalu menjadi acara rutin di setiap destinasinya. Bagi dia ini adalah pelarian dari rutinitas kerjanya yang menjemukan. Dan ia menemukan yang dia cari dari setiap pesta tersebut. Lain lagi pencarian yang dilakukan oleh Marina, dalam bukunya "Jingga, Perjalanan ke India dan Thailand Mencari Surga di Bumi" Ia menceritakan perjalanan yang dia lakukan untuk menemukan jawaban dari berbagai pertanyaan tentang...Tuhan...beraat.

Hal itu juga yang dilakukan oleh Elizabeth Gilbert seperti dituliskan dalam " Eat, Pray & Love". Berbagai persoalan yang dialami Elizabeth membuatnya kehilangan pegangan akan arah hidup hingga akhirnya Ia memutuskan untuk melakukan perjalanan ke Italia untuk menikmati berbagai kesenangan dunia, kemudian India untuk mendalami hal-hal spiritual dan akhirnya ke Indonesia dimana Ia mendapatkan keseimbangan dari keduanya.

Ada banyak alasan seseorang melakukan perjalanan keberbagai penjuru dunia dan sebagian besar adalah untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mulai memenuhi kepala mereka. Pertanyaan-pertanyaan itu kemudian menggiring banyak orang untuk melakukan perjalanan lintas negara untuk memahami dirinya sendiri melalui interaksi dengan dunia luar. Menemukan diri sendiri di luar sana adalah yang dilakukan para travelers itu.

Traveling bukan sekedar menikmati alam atau makanan dari berbagai negara dan budaya yang berbeda. Ini soal pencarian terhadap berbagai pertanyaan dalam hidup. Pertanyaan yang kadang sulit dikonstruksikan karena terus bergerak dan berputar-putar. Pertanyaan pemuda Belgia tadi seperti backpackers bermata biru pada umumnya adalah tentang kepuasan hidup. Marina, penulis Jingga, bertanya tentang makna hidup dan Tuhan, sementara Elizabeth Gilberth memiliki pertanyaan tentang kedua hal itu. Lain lagi pertanyaan bos gw, tentang best practice in doing business (gak dalem banget seeh).

Lalu bwt gw sendiri pertanyaan yang selalu muncul adalah tentang diri gw sendiri, siapa, mengapa dan bagaimana (lebih gak dalem dari bos gw). Stupid question about myself that turning around my head. Sesuatu yang memang tidak pernah selesai dan hanya bisa dinikmati seperti sebuah perjalanan....traveling will leads my way to find the answer. That's why I love it...

No comments: