Pages

Sunday, October 17, 2010

Badut

Menganggap hidup sebagai sesuatu yang serius adalah....SALAH. Hidup adalah lelucon dan kita adalah badut-badutnya. Menjadi badut bukanlah sebuah pilihan. Bagi sebagian orang, hidup bukanlah soal memilih, tetapi menjalani apa yang ada. Determinis, menjadi korban, dan pasrah hingga akhirnya....menjadi badut. Seorang badut membuat orang tertawa dan menertawakan hal-hal bodoh yang dia lakukan. Badut ada dimana-mana, bukan cuma di Dufan atau pesta ulang tahun anak-anak kecil dengan baju warna-warni dan hidung bulat yang lucu nan menggemaskan. Salah satunya pernah gw lihat di kantor saat melangsungkan sebuah acara makan malam dengan tamu dari luar.
Mirip dengan salah satu adegan dalam film Dono Kasino Indro jaman dulu itu. Kejadiannya berlangsung di sebuah restoran Jepang di Hotel Gran Melia gak jauh dari kantor. Setelah jam pulang kantor, gw bersama beberapa teman kantor salah satunya sang tokoh utama untuk adegan itu, Pak Maman (bukan nama sebenarnya) menuju restoran itu. Gw baru pertama kali itu kenal dengan Pak Maman walaupun sudah beberapa kali melihat figurnya berseliweran di gedung kantor. Orangnya kurus kecil berkumis dengan logat betawi yang kental. Kesan pertama melihat potongan seperti itu adalah karakter yang serius tapi kesan itu akan langsung luntur begitu lo udah denger suara cemprengnya dan omongannya yang sok serius tapi gak jelas apa maksudnya.

Karena melibatkan jajaran direksi maka protokoler kantor pun diberlakukan. Sesuai protokoler ruangan dipisahkan menjadi dua kelas berdasarkan kastanya, untuk high level person diruang VIP dan kroco di LUAR ruangan VIP * untungnya masih di dalam restoran sih...bukan di luar terasnya *. Gw, dan Pak Maman masuk dalam kelas kroco. Saat memesan makanan dalam menu, Pak Maman tampak akrab sekali dengan beberapa pelayan di sana, seakan sudah sering bolak-balik makan di sana.

Pemilihan makanan dari menu yang ada pun dilakukan. Sementara gw masih bolak-balik daftar menu, Pak Maman sudah menyebutkan makanan pesanannya. Sekilas terdengar Pak Maman menyebutkan pesanan untuk dibungkus dan nanti dia akan mengambilnya dibelakang. Gw senyum-senyum dan nyengir sendiri. *tiba2 dapet inspirasi : lain kali gw jadi kepengen bungkus untuk dibawa pulang*. Kemudian dilanjutkan dengan pemesanan minuman. Saat memilih minuman dan tidak menemukan jenis minuman yang sesuai. Pak Maman pun memanggil sang pelayan dengan gaya Aristokratnya. "Kalo jus ada gak?" tanya Pak Maman. "Ada Pak , Mau Jus apa Pak? " jawab sang pelayan. Setelah menyebutkan pesanannya. Berlalulah sang pelayan dan sembari menunggu pesanan kami berbincang-bincang ngalor-ngidul.

Makanan diantarkan, acara makan dilakukan dengan penuh khidmat mengingat harganya yang cukup bikin deg-degan kalo pake duit sendiri. Gw melihat kiri kanan gw dan memerhatikan pesanan masing-masing yang menunya berbeda sambil membayangkan siapa yang paling mahal dan berpotensi merugikan perusahaan, dan negara tentunya. Mudah-mudahan bukan gw. Tak lama minuman pun diantarkan. Segelas untuk Pak Maman dan segelas lagi untuk ajudan Pak Direktur yang ikut dipesankan juga oleh Pak Maman, seakan-akan dialah bosnya. Jus Strawberry yang tampak spesial dengan ukuran gelas cukup besar. Jelas bakal merugikan negara.

Sementara ruangan di high level person masih ramai, di ruangan kroco sudah sepi. Jatahnya cuma sedikit di luar sini. Tanpa menunggu acara selesai acara penandatangan "bill' pun dilakukan. Pak Maman menjadi delegasi perusahaan untuk urusan ini. Pembayaran dilakukan seperti biasa tetapi ada satu jenis pesanan yang tidak bisa dilakukan seperti " biasa". Pesanan itu, seperti mas kawin harus dibayar TUNAI. Pak Maman nampak panik, namun berusaha cool, menjaga benteng kehormatannya yang mulai diganggu gugat.

"Loh kok gak bisa dimasukan ke dalam bill perusahaan???" Tanya Pak Maman dengan cemas. "Kalo jus ini pesannya di restoran lain Pak jadi gak bisa disatukan dengan bill yang biasa. Harus dibayar tunai Pak" jawab sang pelayan dengan sedikit memaksa. "Ahhh tadi pelayan yang satu bilang bisa…" sanggah Pak Maman dalam posisi semakin terjepit. Seinget gw gak ada yang bilang gitu sih (jago ngarang juga nih si Maman) , si pelayan cuma bilang jus nya ada tp emang gak dibilang di pesan dari restoran lain. Ternyata si pelayan lupa (atau mungkin sengaja lupa) memberi tahu bahwa karena pesanan diperoleh dari restoran sebelah maka harus dibayar tunai karena gak bisa dimasukin ke dalam bill perusahaan. Itu yang jadi masalah.

"Wah saya gak bawa uang tunai nih, kartu juga gak ada. Pokoknya masukkin ke bill aja deh" Pak Maman tetap ngotot walau kehabisan amunisi. Satu gelas jus strawberry yang spesial tadi ternyata seharga Rp150.000 dan Pak Maman bener-bener gak bawa uang tunai. Mendengar perdebatan sengit soal jus tadi gw bingung bagaimana menempatkan diri. Di dompet gw ada uang tunai lebih dari cukup untuk membayar 2 gelas jus mahal itu *sombong*. Tp gw gak rela menawarkan diri. Takut gak dibalikin...hhe *jahat bener*. Lagipula gw khawatir mencederai harga diri Pak Maman yang sedang diuji oleh keadaan. Sepanjang kejadian yang menjepitnya itu dia juga tak berusaha meminta bantuan gw dan lainnya, seakan-akan semuanya undercontrol. Gw khawatir merusak keadaan kalau menawarkan bantuan. Jadilah Pak Maman menghadapi keadaan itu sendiri dengan tabahnya *lebih tepatnya….dengan malunya*. Persis sekali dengan adegan di salah satu film Dono-Kasino-Indro.

Tapi selayaknya badut dengan muka tebalnya tak ada sedikitpun penyesalan yang muncul, Ia hanya tertawa seperti badut. Bahkan saat bos gw mengungkapkan kembali cerita itu di depan orang lain beberapa waktu lalu saat melewati Hotel tempat kejadian perkara, Pak Maman pun ikut menertawakan dirinya. Getir tentunya. Karena mungkin hidupnya telah cukup getir dengan banyak hal yang gw sendiri belum pahami. Ada dua cara seseorang menghadapi tekanan hidup, bertempur dengannya atau menertawakannya. Fight or Flight. Pak Maman memilih yang kedua. Kejadian memalukan itu mungkin bagi Pak Maman tak ada artinya karena dia adalah salah satu tipe orang yang tidak terlalu memusingkan hidup. Dia adalah tipe pekerja yang seumur-umur berada dalam kondisi yang itu-itu saja. Karena keadaan tersebut mungkin ia pun mencari peningkatan dari sektor lain, salah satunya kesempatan semacam itu.

Pak Maman hanyalah badut kecil yang hanya berusaha memanfaatkan situasi untuk mendapatkan sedikit kemewahan yang mungkin jarang dinikmatinya. Sewaktu kejadian diatas saat ia membungkus makanan untuk pulang, ia sempat menelpon keluarganya dan mengatakan bahwa Ia sebentar lagi pulang dan akan membawakan mereka makanan. Menyentuh.

Awalnya gw menertawakan perilaku tersebut. Tapi di balik itu semua tentu ada penyebabnya. Entah karena mental rasa memiliki terhadap perusahaan yang tinggi, sehingga mengambil semua hal yang mungkin diambil dari perusahaan atau memang ada sesuatu yang belum tercukupi. Mungkin sesuatu yang kurang itu mencakup kebutuhan dasar sehingga melakukan hal-hal diluar standar.

Badut-badut kecil seperti Pak Maman memilih untuk menertawakan hidup daripada memusingkannya. Namun kadang hal seperti itu memperlihatkan gw satu perspektif baru bahwa MENGANGGAP hidup sebagai sesuatu yang serius adalah....SALAH...............
..........MENJALANI hidup dengan serius adalah yang BENAR.

No comments: